Kisah Perjuangan Ibu 4 Anak Penjarakan Tentara Myanmar yang Memperkosanya

Novi Christiastuti - detikNews
Jumat, 18 Des 2020 15:26 WIB
A Myanmar soldier stands near Maungdaw, north of Rakhine state, Myanmar September 27, 2017. REUTERS/Soe Zeya Tun
Ilustrasi (dok. REUTERS/Soe Zeya Tun)

"Saya tidak sepenuhnya percaya bahwa vonis ini akan menghentikan pemerkosaan dan penganiayaan terhadap perempuan di area-area konflik karena mereka (militer-red) adalah orang-orang yang tidak bisa diandalkan dengan dua wajah," imbuhnya.

Namun para pengamat memperingatkan bahwa terlalu dini untuk menilai apakah kemenangan Thein akan menjadi momen penting bagi militer Myanmar -- yang menguasai negara itu hingga tahun 2011 dan kini masih memegang kendali atas banyak aspek kehidupan di negara itu.

Dengan dijatuhkannya vonis penjara terhadap tiga tentara yang memperkosanya, Thein ingin seorang perwira senior Myanmar -- yang diyakini bisa menghentikan pemerkosaan itu -- untuk turut diadili.

Usai serangan itu, Thein dan anak-anaknya kabur dari Rakhine dan pergi ke Sittwe. Sementara suami Thein yang bekerja di Thailand, telah meninggalkan dirinya dan tidak pernah mengirimkan dukungan finansial keluarga kepadanya maupun anak-anaknya.

"Saat saya diam-diam menderita, saya hanya bisa berharap dia perlahan akan memahami saya," ucapnya kepada AFP.

Namun dia berharap kasusnya bisa mendorong korban lainnya untuk berani memperjuangkan keadilan. "Saya ingin mendorong semua perempuan di Rakhine yang menderita untuk mulai bicara kebenaran, bukannya malu dan menyembunyikannya. Jadilah seperti saya -- jadilah berani," tandasnya.

Halaman

(nvc/ita)