Prancis Inspeksi Puluhan Masjid yang Diduga Tempat Ajaran Radikal

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Jumat, 04 Des 2020 14:44 WIB
Police officers stand guard near Notre Dame church in Nice, southern France, Thursday, Oct. 29, 2020. An attacker armed with a knife killed at least three people at a church in the Mediterranean city of Nice, prompting the prime minister to announce that France was raising its security alert status to the highest level. It was the third attack in two months in France amid a growing furor in the Muslim world over caricatures of the Prophet Muhammad that were re-published by the satirical newspaper Charlie Hebdo. (Eric Gaillard/Pool via AP)
Foto: Polisi di Nice usai penyerangan di Nice (Eric Gaillard/Pool via AP)
Paris -

Otoritas Prancis menginspeksi puluhan masjid dan ruang sholat yang dicurigai sebagai tempat ajaran radikal mulai Kamis (3/12/2020) waktu setempat. Inspeksi ini merupakan bagian dari tindakan keras terhadap ekstremis Islam setelah serentetan serangan di negara itu.

Dilansir AFP, Jumat (4/12/2020) Menteri Dalam Negeri Prancis Gerald Darmanin mengatakan kepada radio RTL bahwa jika salah satu dari 76 masjid dan ruang sholat yang diinspeksi itu ditemukan mempromosikan ekstremisme, maka akan ditutup.

Inspeksi tersebut adalah bagian dari tanggapan pemerintah terhadap dua serangan brutal baru-baru ini yang mengejutkan Prancis - pemenggalan kepala seorang guru pada 16 Oktober usai menunjukkan kartun Nabi Muhammad kepada murid-muridnya dan pembunuhan tiga orang di sebuah gereja di Nice pada 29 Oktober.

Darmanin tidak mengungkapkan tempat ibadah mana yang akan diperiksa. Dalam catatan yang dia kirimkan kepada kepala keamanan regional, seperti dilihat oleh AFP, dia mengutip 16 alamat di wilayah Paris dan 60 lainnya di seluruh negeri.

Di Twitter, dia mengatakan masjid-masjid itu dicurigai sebagai sarang "separatisme" - istilah yang digunakan Presiden Emmanuel Macron untuk menggambarkan Muslim ultrakonservatif yang menutup diri dari masyarakat Prancis dengan, misalnya, mendaftarkan anak-anak mereka di sekolah-sekolah Islam bawah tanah atau memaksa gadis-gadis muda untuk mengenakan jilbab Muslim.

Darmanin mengatakan kepada RTL, hanya sebagian kecil dari sekitar 2.600 tempat ibadah Muslim di Prancis yang dicurigai menjajakan teori-teori radikal.

"Hampir semua Muslim di Prancis menghormati hukum Republik dan dirugikan oleh (radikalisasi) itu," kata menteri sayap kanan itu.

(rdp/ita)