Round-Up

Dendam Kesumat Iran usai Kematian Sang Ilmuwan Nuklir di Teheran

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 01 Des 2020 04:53 WIB
Upacara Pemakaman Ahli Nuklir Iran Mohsen Fakhrizadeh Dimulai
Foto: Ilmuwan nuklir Iran yang bernama Mohsen Fakhrizadeh ( DW News)
Teheran -

Dendam kesumat Iran atas kematian pembunuhan ilmuwan nuklir terkemukanya memicu perdebatan. Jenazah sang ilmuwan kini telah diberi penghormatan terakhir sebelum dimakamkan.

Seperti dilansir AFP, Senin (30/11/2020), ilmuwan nuklir Iran yang bernama Mohsen Fakhrizadeh tewas akibat luka-luka yang dideritanya saat terjadi baku tembak antara pengawalnya dengan sekelompok pria bersenjata di Teheran, pekan lalu.

Dua hari kemudian, parlemen Iran meminta pemeriksa internasional untuk situs nuklir Iran untuk menghentikan pemeriksaan. Pejabat top Iran mengisyaratkan bahwa Iran harus meninggalkan kesepakatan non-proliferasi global.

Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran biasanya menangani keputusan terkait program nuklir Iran dan rancangan undang-undang dari parlemen harus disetujui oleh Dewan Wali Iran. Presiden Hassan Rouhani telah menekankan bahwa Iran akan membalas dendam pada 'waktu yang tepat' dan tidak akan terburu-buru ke dalam 'perangkap'.

Kepala Dewan Kemanfaatan Iran -- badan penasihat dan arbitrase, Mohsen Rezai, menyatakan 'tidak ada alasan mengapa (Iran) tidak seharusnya mempertimbangkan kembali Kesepakatan Proliferasi Nuklir'. Rezai menyatakan Iran juga harus menghentikan penerapan protokol tambahan -- dokumen yang mengatur inspeksi fasilitas nuklir Iran.

Dilaporkan kantor berita ISNA, Rezai menyerukan agar badan atom Iran mengambil 'langkah minimum' seperti 'menghentikan kamera-kamera siaran online, mengurang atau menangguhkan para pemeriksa dan menerapkan pembatasan terhadap akses mereka' di situs-situs nuklir Iran.

Sementara Ketua parlemen Iran, Mohammad-Bagher Galibaf, menyerukan 'reaksi keras' yang akan 'membuat jera dan membalas dendam' terhadap pihak di balik pembunuhan Fakhrizadeh. Parlemen Iran menegaskan bahwa 'respons terbaik' terhadap pembunuhan itu adalah 'membangkitkan industri nuklir Iran yang mulia'.

Dalam pernyataan yang ditandatangani oleh 290 anggota parlemen Iran, disebutkan bahwa pembunuhan itu menunjukkan Israel, Amerika Serikat (AS) dan sekutu-sekutu mereka telah menjadi 'kurang ajar' dalam 'teror dan sabotase' terhadap Iran.

Pernyataan itu menyerukan para pemeriksa dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA) untuk dilarang mengunjungi situs nuklir Iran. Beberapa anggota parlemen Iran sebelumnya menuduh para pemeriksa IAEA bertindak sebagai 'mata-mata' yang berpotensi bertanggung jawab atas kematian Fakhrizadeh.

Simak berita selengkapnya di halaman berikut --->

Selanjutnya
Halaman
1 2