WHO Khawatir dengan Lonjakan Kasus COVID-19 di Brasil-Meksiko

Eva Safitri - detikNews
Selasa, 01 Des 2020 03:39 WIB
Tedros Adhanom Ghebreyesus, Director General of the World Health Organization (WHO), addresses a press conference about the update on COVID-19 at the World Health Organization headquarters in Geneva, Switzerland, Monday, Feb. 24, 2020. (Salvatore Di Nolfi/Keystone via AP)
Tedros Adhanom Ghebreyesus (Foto: Salvatore Di Nolfi/Keystone via AP)
Jakarta -

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Senin menyuarakan kekhawatiran atas memburuknya situasi COVID-19 di Brasil dan Meksiko. WHO mendesak kedua negara itu untuk serius mengendalikan penyebaran.

"Saya pikir Brasil harus sangat, sangat serius," kata Kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus kepada wartawan, seperti dilansir AFP, Selasa (1/12/2020).

Dia juga menyuarakan keprihatinan yang sama ketika ditanya tentang Meksiko. Dia menyebut Meksiko saat ini dalam kondisi buruk.

"Jumlah kasus berlipat ganda dan jumlah kematian berlipat ganda ... kami ingin meminta Meksiko untuk menjadi sangat serius," ujar Tedros.

Brasil telah menjadi salah satu negara yang paling terpukul oleh pandemi, dengan lebih dari 172.000 orang tewas. Angka itu tertinggi kedua di dunia, setelah Amerika Serikat.

Setelah dataran tinggi yang tampaknya tak berujung, dengan lebih dari 1.000 kematian setiap hari dari Juni hingga Agustus, dengan rata-rata bergulir tujuh hari, angka tersebut akhirnya turun di negara raksasa berpenduduk 212 juta orang itu.

Tetapi Tedros menunjukkan bahwa sementara minggu pertama bulan November telah menyaksikan 2.538 kematian, jumlah kematian minggu lalu di Brasil mencapai 3.876 - "peningkatan yang signifikan".

Jumlah kasus juga meningkat dua kali lipat secara efektif selama periode yang sama, dengan Brasil menghadapi 218.000 kasus minggu lalu saja.

Presiden Jair Bolsonaro, yang telah meremehkan pandemi sejak awal. Dia juga menolak pembicaraan gelombang kedua yang disebutnya sebagai "gosip".

Pemimpin berusia 65 tahun itu pun terjangkit Covid-19 dan berpendapat bahwa dampak ekonomi dari tindakan penguncian lebih buruk daripada virus itu sendiri. Dia juga mengatakan tidak akan mengambil vaksin ketika sudah tersedia.

Sementara, Meksiko melihat total korban tewas melewati 100.000 pada 20 November dan telah menambahkan lebih dari lima ribu kematian sejak itu.

Selama akhir pekan, untuk pertama kalinya, ada lebih dari 12.000 kasus dalam satu hari.

(eva/eva)