Kapal Induk Amerika Dikerahkan ke Teluk, Ada Ancaman Khusus?

Rita Uli Hutapea - detikNews
Sabtu, 28 Nov 2020 19:58 WIB
151123-N-OI810-496 WATERS SOUTH OF JAPAN (Nov. 23, 2015) The aircraft carrier USS Ronald Reagan (CVN 76) is underway during Annual Exercise (AE) 16. The Ronald Reagan Carrier Strike Group is participating in Annual Exercise 16 to increase interoperability between Japanese and American forces through training in air and sea operations. (U.S. Navy photo by Mass Communication Specialist 3rd Class Nathan Burke/Released)
ilustrasi kapal induk AS (Foto: AFP)
Jakarta -

Kapal induk Amerika Serikat, USS Nimitz dikerahkan ke kawasan Teluk minggu ini, beberapa hari sebelum pembunuhan ilmuwan nuklir terkemuka Iran. Namun, Angkatan Laut AS mengatakan pada hari Sabtu (28/11) ini bahwa pengerahan kapal perang itu tidak terkait dengan ancaman khusus.

"Tidak ada ancaman khusus yang memicu kembalinya Nimitz Carrier Strike Group," kata Komandan Rebecca Rebarich, juru bicara Armada Kelima Angkatan Laut AS yang berbasis di Bahrain, dalam pernyataan yang dikirim melalui email setelah kapal induk tersebut dikerahkan pada hari Rabu (25/11) lalu.

Seperti dilansir kantor berita Reuters, Sabtu (28/11/2020), Mohsen Fakhrizadeh, ilmuwan Iran yang dicurigai oleh negara-negara Barat mendalangi program bom nuklir rahasia, tewas dalam serangan di dekat Teheran pada hari Jumat (27/11). Insiden itu berisiko memprovokasi konfrontasi baru antara Iran dan musuh-musuhnya pada minggu-minggu terakhir masa kepresidenan Presiden AS Donald Trump.

Rebarich mengatakan pengerahan kembali kapal induk itu terkait dengan penarikan pasukan AS di Irak dan Afghanistan.

"Tindakan ini memastikan kami memiliki kemampuan yang cukup untuk menanggapi setiap ancaman dan untuk mencegah musuh bertindak melawan pasukan kami selama pengurangan kekuatan," katanya.

Sebelumnya, Kementerian Pertahanan Iran menyatakan seperti dilansir kantor berita AFP, Sabtu (28/11/2020), ilmuwan nuklir tersebut, Mohsen Fakhrizadeh (59) "terluka parah" ketika para penyerang menargetkan mobilnya sebelum terlibat dalam baku tembak dengan para pengawalnya.

Kementerian menyatakan bahwa Fakhrizadeh, yang mengepalai organisasi penelitian dan inovasi Kementerian Pertahanan, kemudian "menjadi martir" setelah petugas medis gagal menyelamatkan nyawanya.

Amerika Serikat memberikan sanksi kepada Fakhrizadeh pada tahun 2008 atas "aktivitas dan transaksi yang berkontribusi pada pengembangan program nuklir Iran", dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pernah menggambarkannya sebagai bapak program senjata nuklir Iran.

Simak juga video 'Penembakan Terjadi di AS, 1 Tewas dan 4 Terluka':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2