Putra Mahkota: Saudi Akan Serang Siapapun yang Ancam Keamanan Negara

Novi Christiastuti - detikNews
Jumat, 13 Nov 2020 13:15 WIB
Saudi Crown Prince Mohammed bin Salman speaks during the meeting of Islamic Military Counter Terrorism Coalition defence ministers in Riyadh, Saudi Arabia November 26, 2017. Bandar Algaloud/Courtesy of Saudi Royal Court/Handout via REUTERS ATTENTION EDITORS - THIS PICTURE WAS PROVIDED BY A THIRD PARTY.
Pangeran Mohammed bin Salman (dok. Bandar Algaloud/Courtesy of Saudi Royal Court/Handout via REUTERS)
Riyadh -

Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman, atau MBS memperingatkan bahwa Saudi akan menyerang siapa saja yang mengancam keamanan dan stabilitas negara ini. MBS menegaskan bahwa serangan itu akan dilakukan dengan 'tangan besi'.

Seperti dilansir Reuters, Jumat (13/11/2020), peringatan tersebut disampaikan MBS setelah serangan bom melanda seremoni peringatan berakhirnya Perang Dunia I di Jeddah. Seremoni itu digelar oleh Kedutaan Besar Prancis dan banyak dihadiri para diplomat negara-negara Eropa. Beberapa orang luka-luka akibat ledakan itu.

Kelompok radikal Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) telah mengklaim bertanggung jawab atas serangan bom yang terjadi di kompleks pemakaman warga non-Muslim di Jeddah pada Rabu (11/11) waktu setempat. ISIS tidak memberikan bukti untuk mendukung klaimnya tersebut.

"Kami akan terus menyerang dengan tangan besi terhadap siapapun yang berpikir untuk mengancam keamanan dan stabilitas kami," tegas MBS dalam pernyataan yang dilaporkan kantor berita Saudi Press Agency (SPA).

Ditegaskan MBS bahwa Saudi berkomitmen untuk menghadapi ekstremisme dan menolak serta mengecam seluruh aksi teroris.

Lebih lanjut, MBS menyatakan bahwa serangan teror yang sebenarnya di Kerajaan Saudi telah 'mendekati nol' menyusul restrukturisasi Kementerian Dalam Negeri dan reformasi sektor keamanan yang dimulai pertengahan tahun 2017 lalu.

MBS juga menyatakan bahwa Kerajaan Saudi akan terus memerangi korupsi setelah negara berhasil memulihkan 247 miliar Riyals dalam bentuk penyelesaian, selain aset senilai puluhan miliar Riyals dalam tiga tahun terakhir.

Diketahi bahwa pada Januari 2019, otoritas Saudi mengakhiri operasi antikorupsi yang membuat banyak anggota elite dari sektor perekonomian dan politik Saudi ditahan. Para pengkritik melihat upaya tersebut sebagai perebutan kekuasaan oleh MBS, yang disebut menyingkirkan saingan mana pun untuk suksesi takhta. MBS dalam pernyataannya menegaskan operasi antikorupsi itu sebagai 'terapi kejut' saat dia berusaha merombak perekonomian Saudi.

(nvc/ita)