Dubes RI Bicara Pentingnya Peran Wanita dalam Diplomasi Antar Agama

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 13 Nov 2020 10:18 WIB
Dubes RI untuk Jerman Arif Havas Oegroseno dan Dubes Jerman untuk Pakistan, Bernhard Schlagheck, selaku pembicara pada Breakout Session
Foto: Dubes RI untuk Jerman Arif Havas Oegroseno dan Dubes Jerman untuk Pakistan, Bernhard Schlagheck, selaku pembicara pada Breakout Session (KBRI Jerman)
Berlin -

Dubes RI untuk Jerman Arif Havas Oegroseno menjadi pembicara dalam Konferensi Religions for Peace (RfP). Oegroseno bicara soal pentingnya peran wanita dalam diplomasi antar agama.

Dalam rilis yang diterima detikcom dari KBRI Jerman, Jumat (13/11/2020) Jerman kembali menjadi tuan rumah penyelenggaraan Konferensi Religions for Peace (RfP) yang berlangsung di Lindau, Jerman pada 10 - 13 November 2020. Acara ini digelar secara virtual dan dihadiri 600 peserta.

Konferensi tahun 2020 ini juga sekaligus menandai 50 tahun berdirinya Religions for Peace. Di ulang tahun emas ini, isu tentang Peran Wanita dalam Diplomasi dan Kerja Sama antar Agama menjadi bahasan utama konferensi, yang bertajuk: "Keeping Faith and Transforming Tomorrow".

Pada konferensi yang dibuka secara khusus oleh Kanselir Jerman, Angela Merkel dan Sekjen PBB Antonio Gutteres, Indonesia diminta untuk menjadi pembicara dan penanggap diskusi pada Breakout Session tentang Religion and Diplomacy in South and South East Asia. Dalam hal ini, Dubes RI untuk Jerman Arif Havas Oegroseno bertindak sebagai pembicara, sementara sebagai penanggap diskusi dari Indonesia adalah Direktur Wahid Institute, Yenny Wahid.

Dubes Oegroseno menyebutkan bahwa kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara merupakan kawasan dengan keberagaman yang cukup kompleks. Keberagaman di kawasan ini tidak hanya dari etnis, namun juga agama, tingkat ekonomi, tingkat sosial, budaya dan juga tatanan politik (political setting) yang berbeda-beda.

Dubes Oegroseno juga menggarisbawahi semakin besarnya potensi dan peran kaum wanita dalam memajukan dialog antar agama untuk perdamaian ini. Dia menjelaskan bahwa wanita saat ini memainkan peran penting dalam berbagai sektor kehidupan masyarakat.

"Di Indonesia misalnya, Ketua DPR saat ini adalah wanita. 20,5% anggota parlemen diisi wanita. Kita juga pernah punya Presiden wanita, yang saat ini juga menjadi Ketua Umum salah satu partai politik terbesar di tanah air. Di kabinet, sekitar 14% menteri adalah wanita. Di bidang ekonomi, khususnya di bidang ekonomi digital (e-commerce), 80% pelakunya adalah wanita," jelas Dubes Oegroseno.

Lebih lanjut Dubes Oegroseno menegaskan bahwa setidaknya ada empat aspek yang perlu menjadi perhatian dalam mendorong partisipasi kaum wanita untuk memajukan diplomasi antar agama. Keempat aspek itu adalah kesehatan, pendidikan, partisipasi ekonomi dan penguatan wanita di bidang politik.

Selanjutnya
Halaman
1 2