Pemberontak Houthi Minta Joe Biden Bantu Hentikan Konflik Yaman

Novi Christiastuti - detikNews
Senin, 09 Nov 2020 12:33 WIB
Democratic presidential candidate former Vice President Joe Biden speaks Friday, Nov. 6, 2020, in Wilmington, Del. (AP Photo/Carolyn Kaster)
Joe Biden (dok. AP Photo/Carolyn Kaster)
Sanaa -

Seorang pejabat dari kelompok pemberontak Houthi di Yaman meminta presiden terpilih Amerika Serikat (AS), Joe Biden, untuk membantu mengakhiri konflik Yaman yang terus berkelanjutan. Biden diharapkan mampu menekan Arab Saudi untuk menghentikan konflik Yaman.

Seperti dilansir Associated Press, Senin (9/11/2020), Menteri Luar Negeri pemerintahan Houthi, Hisham Sharaf, menuturkan bahwa meskipun Biden telah berbicara soal mengurangi dukungan AS untuk Saudi -- rival Houthi yang didukung Iran, itu masih belum cukup.

Sharaf menyatakan pemerintah AS harus menggunakan pengaruhnya untuk 'menekan' Saudi dan sekutunya, Uni Emirat Arab, agar menghentikan perang di Yaman.

"Ketika kita bicara soal perubahan, dalam kaitannya dengan Presiden AS, saya mendengar beberapa hal dari Biden soal hal ini, bahwa mereka akan mengurangi atau mereka akan menghentikan dukungan mereka kepada Saudi," ucap Sharaf.

"Apa yang kita cari adalah (bagi AS) untuk menginstruksikan, untuk menekan Saudi dan Emirat untuk menghentikan perang di Yaman, bukan mengurangi bantuan kepada Saudi atau ke Emirat," cetusnya.

Ditambahkan Sharaf dalam wawancara dengan Associated Press bahwa pemerintahan Houthi yang kini menguasai Yaman, siap bekerja dengan AS dan negara-negara lainnya untuk mengupayakan perdamaian di Yaman. Dia menegaskan tidak ada permusuhan antara rakyat Yaman dan rakyat Amerika.

Namun diketahui bahwa Houthi kerap menggunakan slogan anti-Amerika. Pendukung mereka kerap meneriakkan 'Matilah Amerika dan Israel' yang mengidentifikasikan gerakan mereka dengan Iran -- rival Israel, sekutu AS.

"Kami bukan musuh Amerika. Saya harus mengatakan ini kepada seluruh dunia: Kami bukan musuh publik Amerika, atau warga Amerika. Terkadang ketika kami mengutuk atau ketika kami berteriak menentang Amerika, maksud kami adalah pemerintahannya, yang memberikan dukungan kepada Saudi, kepada Emirat, kepada yang lain yang membunuh warga kami," jelasnya.

Dalam konflik Yaman yang pecah sejak tahun 2014 saat Houthi menduduki ibu kota Sanaa, Saudi melakukan intervensi dengan meluncurkan operasi militer bersama sekutunya. Tujuan dari operasi militer Saudi adalah memulihkan pemerintahan Presiden Yaman, Abde Rabu Mansour Hadi.

Konflik Yaman yang berkelanjutan dilaporkan telah menewaskan lebih dari 112 ribu orang, baik petempur Houthi maupun warga sipil. Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) sebelumnya menyebut konflik Yaman sebagai krisis kemanusiaan terbesar di dunia, dengan jutaan orang kelaparan dan kekurangan obat-obatan.

(nvc/ita)