Senator AS Ajukan Resolusi Nyatakan China Lakukan Genosida pada Uighur

Novi Christiastuti - detikNews
Rabu, 28 Okt 2020 10:29 WIB
Pemerintah China klaim kamp di Xinjiang, China, tawarkan pelatihan sukarela bagi etnis Uighur. Namun, dokumen rahasia yang bocor ke publik berkata sebaliknya.
Ilustrasi -- Kamp etnis Uighur di Xinjiang, China (AP Photo)
Washington DC -

Para Senator Amerika Serikat (AS) berupaya untuk mendorong resolusi yang menyatakan China melakukan genosida terhadap etnis Muslim Uighur dan etnis Muslim berbahasa Turki lainnya yang tinggal di wilayah negara itu. Langkah ini dinilai akan meningkatkan tekanan terhadap China.

Seperti dilansir AFP, Rabu (28/10/2020), resolusi ini diajukan oleh para Senator lintas partai, namun kecil kemungkinan akan segera dibahas dan diloloskan, mengingat Senat AS masih dalam masa reses hingga pemilihan presiden (pilpres) pekan depan.

Draf resolusi itu menyatakan bahwa kampanye China 'terhadap Uighur, etnis Kazakh, Kyrgyz dan anggota kelompok minoritas Muslim lainnya di Wilayah Otonomi Uighur Xinjiang merupakan genosida'.

"Resolusi ini mengakui kejahatan ini seperti yang telah terjadi dan menjadi langkah pertama untuk meminta pertanggungjawaban China atas tindakan mengerikan mereka," cetus Senator John Cornyn dari Partai Republik, yang mensponsori resolusi tersebut.

Senator Jeff Merkley dari Partai Demokrat menyebut resolusi itu akan menunjukkan bahwa Amerika Serikat 'tidak bisa tinggal diam'.

"Serangan China terhadap Uighur dan kelompok minoritas Muslim lainnya -- pengawasan secara luas, pemenjaraan, penyiksaan dan 'kamp pendidikan ulang' secara paksa -- adalah genosida, murni dan sederhana," tegas Merkley.

Sponsor lainnya untuk resolusi ini adalah Senator Republikan, Marco Rubio, yang merupakan sekutu dekat Presiden Donald Trump dalam kebijakan luar negeri dan Senator Demokrat, Robert Menendez, yang merupakan anggota senior Komisi Hubungan Luar Negeri Senat.

Kelompok-kelompok HAM menyatakan bahwa lebih dari 1 juta warga Uighur mendekam di kamp-kamp yang ada di wilayah Xinjiang, saat otoritas China berupaya mengintegrasikan komunitas secara paksa dan membasmi warisan Islamnya.

Otoritas China telah berulang kali menyangkal tuduhan tersebut dan menyebut kamp-kamp itu sebagai pusat-pusat kejuruan yang mengajarkan keterampilan untuk mencegah radikalisme Islam menyusul serangkaian serangan di wilayah tersebut.

Pemerintahan Trump sebelumnya mengecam situasi di Xinjiang dan menjatuhkan sanksi terhadap pejabat tinggi Partai Komunis China, Chen Quanguo, namun tidak menyatakannya sebagai genosida.

(nvc/ita)