Round-Up

Rengekan Prancis Setelah Ramai Seruan Boikot di Negara-negara Arab

Tim detikcom - detikNews
Senin, 26 Okt 2020 22:19 WIB
HAMBURG, GERMANY - JULY 07:  Brigitte Macron attends a concert at the Elbphilarmonie concert hall on the first day of the G20 economic summit on July 7, 2017 in Hamburg, Germany. The G20 group of nations are meeting July 7-8 and major topics will include climate change and migration.  (Photo by Michael Ukas - Pool / Getty Images)
Foto: Presiden Prancis Emmanuel Macron (Getty Images)
Paris -

Presiden Prancis Emmanuel Macron melontarkan pernyataan soal Islam yang menuai kontroversi. Seruan boikot dari negara-negara Arab pun muncul.

Dilansir AFP, Senin (26/10/2020) pada hari Minggu (25/10), Macron mengatakan dalam cuitannya di Twitter: "Kami tidak akan pernah menyerah kepada radikal Islam. Kami tidak menerima ujaran kebencian dan mempertahankan debat yang masuk akal," ujar pemimpin Prancis itu.

Sebelumnya, seruan untuk memboikot barang-barang Prancis sudah berkembang di negara-negara Arab dan sekitarnya, setelah Presiden Emmanuel Macron mengkritik kaum Islamis dan bertekad untuk tidak akan menyerah soal kartun yang menggambarkan Nabi Muhammad.

Komentar awal Macron, pada hari Rabu (21/10), muncul sebagai tanggapan atas pemenggalan kepala seorang guru, Samuel Paty, di luar sekolahnya di pinggiran kota di pinggiran Paris awal bulan ini. Paty dipenggal usai menunjukkan kartun Nabi Muhammad saat mengajar.

Badan non-pemerintah Kuwait, Union of Consumer Co-operative Societies telah menarik beberapa produk Prancis untuk diboikot. Sejumlah pihak yang dikunjungi oleh Reuters pada hari Minggu (25/10) telah membersihkan rak barang seperti produk rambut dan kecantikan yang dibuat oleh perusahaan Prancis.

"Semua produk Prancis telah disingkirkan dari semua Consumer Cooperative Societies," kata ketua Union of Consumer Co-operative Societies, Fahd Al-Kishti kepada Reuters.

Di Arab Saudi, negara dengan ekonomi terbesar di dunia Arab, tagar yang menyerukan boikot pengecer supermarket Prancis, Carrefour menduduki trending kedua Twitter pada hari Minggu (25/10).

Seruan boikot serupa juga telah dikeluarkan oleh kelompok-kelompok di Yordania dan Qatar. Sebelumnya, Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) pada hari Jumat (23/10) mengecam pemenggalan guru yang telah mengguncang Prancis, tetapi juga mengkritik "pembenaran atas pelecehan berbasis penistaan terhadap agama apa pun atas nama kebebasan berekspresi".

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Prancis mengatakan dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada hari Minggu (25/10) waktu setempat, bahwa dalam beberapa hari terakhir telah ada seruan untuk memboikot produk Prancis, terutama produk makanan, di beberapa negara Timur Tengah serta seruan untuk demonstrasi melawan Prancis atas penerbitan kartun satire Nabi Muhammad dari Prancis.

"Seruan boikot ini tidak berdasar dan harus segera dihentikan, serta semua serangan terhadap negara kami, yang didorong oleh minoritas radikal," kata pernyataan itu.

Selanjutnya
Halaman
1 2