Polisi Belarus Tembakkan Granat Setrum ke Massa yang Tuntut Presidennya Mundur

Dwi Andayani - detikNews
Senin, 26 Okt 2020 01:07 WIB
A group of men and women take part in the protest. People holding posters. Colorful vector illustration.
Foto: Dok. iStock
Jakarta -

Polisi Belarus menggunakan granat kejut terhadap puluhan ribu pengunjuk rasa. Para pengunjuk rasa ini disebut menuntut agar Presiden Alexander Lukashenko mengundurkan diri

Dilansir Reuters, Senin (26/20/2020), para pengunjuk rasa terdiri dari gerakan oposisi Belarus. Tindakan polisi dilakukan beberapa jam, sebelum berakhirnya ultimatum yang ditetapkan oleh oposisi.

Dimana meminta Lukashenko harus mengundurkan diri pada tengah malam, atau menghadapi pemogokan nasional. Berdasarkan video yang dibagikan secara online oleh organisasi berita terkemuka, ledakan dan asap putih memenuhi area pemukiman ketika orang-orang bersembunyi di balik kendaraan.

"Puluhan orang ditahan dan pasukan keamanan menggunakan gas air mata di kota barat Lida," kata kantor berita Rusia RIA.

Seorang mantan manajer pertanian kolektif Soviet, Lukashenko telah memerintah Belarus selama lebih dari seperempat abad dan telah menunjukkan sedikit kecenderungan untuk mundur, didukung oleh pinjaman dan tawaran dukungan militer dari sekutu tradisional Rusia.

Lawan utama presiden telah dipenjara atau melarikan diri ke pengasingan setelah pemilu 9 Agustus, yang dituduhkan oleh lawan Lukashenko karena melakukan kecurangan untuk memenangkan masa jabatan keenam berturut-turut. Dia membantah penipuan pemilu.

Sebelumnya pada hari Minggu, kerumunan massa memenuhi ibu kota sambil berteriak "mogok", mengibarkan bendera dan menabuh genderang pada akhir pekan ke-11 protes massal berturut-turut sejak pemilihan yang disengketakan membuat negara itu dalam kekacauan.

Dua belas stasiun metro ditutup, polisi anti huru hara helm berpatroli di jalan-jalan. Hal ini juga menyebabkan layanan internet seluler terganggu di Minsk.

(dwia/dwia)