Round-Up

Kecaman Palestina ke Sudan yang Mau Normalisasi Hubungan dengan Israel

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 24 Okt 2020 21:04 WIB
(COMBO) This combination of pictures created on October 24, 2020 shows (L to R) Israeli Prime Minister Benjamin Netanyahu during a cabinet meeting in Jerusalem on July 29, 2018; and Sudans Prime Minister Abdullah Hamduk during a meeting in the capital Khartoum on July 26, 2020. - Sudan and Israel agreed on Otober 23 to normalise relations, in a US-brokered deal to end decades of hostility that was widely welcomed but stirred Palestinian anger. The announcement makes Sudan, technically at war with Israel since its 1948 foundation, the fifth Arab country to forge diplomatic relations with the Jewish state. (Photos by Sebastian Scheiner and ASHRAF SHAZLY / various sources / AFP)
Foto: Sudan akan normalisasi hubungan dengan Israel (AFP/ASHRAF SHAZLY)

PM Netanyahu menyebut persetujuan Sudan untuk menormalisasi hubungan dengan Israel ini sebagai 'perubahan luar biasa'.

"Sungguh perubahan yang luar biasa. Hari ini, Khartum mengatakan iya untuk perdamaian dengan Israel, iya untuk pengakuan Israel dan iya untuk normalisasi dengan Israel," sebut PM Netanyahu dalam pernyataan berbahasa Ibrani kepada AFP.

Palestina menolak dan mengecam dengan keras rencana normalisasi hubungan antara Sudan dan Israel itu. Ditegaskan Palestina bahwa tidak ada pihak yang memiliki hak untuk bicara atas nama Palestina.

"Negara Palestina hari ini menyatakan kecaman dan penolakan terhadap kesepakatan untuk menormalisasi hubungan dengan negara pendudukan Israel yang merebut tanah Palestina," demikian pernyataan kantor Presiden Palestina, Mahmoud Abbas, seperti dilansir AFP, Sabtu (24/10/2020).

"Tidak ada yang memiliki hak untuk berbicara atas nama rakyat Palestina dan perjuangan Palestina," tegas pernyataan itu.

Hamas, yang menguasai Gaza, juga memberikan komentarnya. Ditegaskan Hamas bahwa kesepakatan Sudan dan Israel itu merupakan 'dosa politik' yang hanya menguntungkan PM Israel.

"Itu merugikan rakyat Palestina dan perjuangan mereka, dan bahkan membahayakan kepentingan nasional Sudan," demikian pernyataan Hamas. "Itu hanya menguntungkan Netanyahu," imbuh Hamas.

Penolakan dan kecaman juga disampaikan Palestina terhadap kesepakatan normalisasi hubungan antara Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain dengan Israel beberapa waktu lalu. Perjanjian damai antara UEA dan Bahrain dengan Israel yang ditandatangani di Washington DC, AS, bulan lalu disebut oleh Palestina sebagai 'pengkhianatan'.

Halaman

(rdp/rdp)