Palestina Tolak Normalisasi Hubungan Antara Sudan dan Israel

Novi Christiastuti - detikNews
Sabtu, 24 Okt 2020 08:39 WIB
Palestinian President Mahmoud Abbas speaks during a meeting of the UN Security Council at UN headquarters in New York, U.S., February 20, 2018. REUTERS/Lucas Jackson
Mahmoud Abbas (REUTERS/Lucas Jackson)
Ramallah -

Palestina menolak dan mengecam dengan keras rencana normalisasi hubungan antara Sudan dan Israel yang dimediasi Amerika Serikat (AS). Ditegaskan Palestina bahwa tidak ada pihak yang memiliki hak untuk bicara atas nama Palestina.

"Negara Palestina hari ini menyatakan kecaman dan penolakan terhadap kesepakatan untuk menormalisasi hubungan dengan negara pendudukan Israel yang merebut tanah Palestina," demikian pernyataan kantor Presiden Palestina, Mahmoud Abbas, seperti dilansir AFP, Sabtu (24/10/2020).

"Tidak ada yang memiliki hak untuk berbicara atas nama rakyat Palestina dan perjuangan Palestina," tegas pernyataan itu.

Rencana normalisasi hubungan antara Sudan dan Israel ini diumumkan setelah dilakukan pembicaraan via telepon antara Perdana Menteri (PM) Sudan, Abdalla Hamdok, dengan Presiden AS Donald Trump dan PM Israel, Benjamin Netanyahu.

Otoritas Sudan telah mengonfirmasi rencana normalisasi hubungan dengan Israel itu, dengan televisi nasional negara itu telah mengumumkan rencana tersebut dan membacakan isi pernyataan gabungan antara Sudan, Israel dan AS.

Hamas, yang menguasai Gaza, juga memberikan komentarnya. Ditegaskan Hamas bahwa kesepakatan Sudan dan Israel itu merupakan 'dosa politik' yang hanya menguntungkan PM Israel.

"Itu merugikan rakyat Palestina dan perjuangan mereka, dan bahkan membahayakan kepentingan nasional Sudan," demikian pernyataan Hamas. "Itu hanya menguntungkan Netanyahu," imbuh Hamas.

Penolakan dan kecaman juga disampaikan Palestina terhadap kesepakatan normalisasi hubungan antara Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain dengan Israel beberapa waktu lalu. Perjanjian damai antara UEA dan Bahrain dengan Israel yang ditandatangani di Washington DC, AS, bulan lalu disebut oleh Palestina sebagai 'pengkhianatan'.

(nvc/rdp)