Maju Mundur Cantik WHO Soal Lockdown Corona

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Senin, 12 Okt 2020 10:48 WIB
Tedros Adhanom Ghebreyesus
Foto: Dirjen WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus (FABRICE COFFRINI / POOL / AFP)
Jenewa -

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) berulangkali mengubah sarannya terkait penanganan virus Corona (COVID-19). WHO sempat tak menganjurkan lockdown (penguncian), lalu menganjurkannya dan kini tak menyarankan lockdown lagi.

Sebagaimana diketahui, saat pertama kali virus Corona merebak pada Desember 2019, Wuhan, China, virus ini lalu menyebar ke berbagai belahan dunia. Pada bulan Februari, virus ini sudah masuk ke Jepang, Korsel, Taiwan, Thailand, Vietnam, Malaysia, Singapura, Sri Langka, Nepal, Uni Emirat Arab, Australia, Kanada, Amerika Serikat, Jerman, Finlandia dan Prancis.

Namun, ketika itu WHO tak lantas menganjurkan negara-negara menutup perbatasannya. Sikap WHO berubah lagi ketika meminta pemimpin negara berhati-hati ketika membuka lockdown. Kini, WHO justru tak menganjurkan lockdown.

Berikut ini rangkaian perubahan sikap WHO soal lockdown dalam penanganan Corona yang dirangkum detikcom, Senin (12/10/2020):

Penutupan Perbatasan Tak Efektif Cegah Corona

Awalnya, pada bulan Februari WHO mengingatkan bahwa penutupan perbatasan negara tidaklah efektif dalam menghentikan penyebaran wabah virus corona dari China. Bahkan mungkin justru akan mempercepat penyebarannya.

"Jika Anda menutup perlintasan perbatasan resmi, Anda bisa kehilangan jejak orang-orang dan tak bisa memonitor (pergerakan mereka) lagi," kata juru bicara WHO, Christian Lindmeier kepada para wartawan di Jenewa, Swiss seperti dilansir kantor berita AFP, Sabtu (1/2/2020).

Padahal, sebelumnya pada Kamis (30/1) waktu setempat, WHO mengumumkan darurat kesehatan global terkait wabah virus corona yang telah menewaskan 259 orang dan menginfeksi belasan ribu orang. Namun badan kesehatan PBB itu menyatakan tidak merekomendasikan pembatasan perjalanan ataupun penutupan perbatasan, dan menyerukan negara-negara yang telah mengambil langkah tersebut agar mempertimbangkannya kembali.

Namun dengan terus menyebarnya virus corona baru ini, sejumlah negara saat itu telah menutup lalu lintas perbatasan dari China atau melarang masuk para pelancong dari Wuhan, kota di China yang menjadi tempat asal Corona ini.

Akan tetapi Lindmeier mengingatkan bahwa upaya negara-negara untuk menghentikan penyebaran virus dengan menutup perbatasan mereka dan melarang pelancong dari China, bisa kontraproduktif.

"Itu mungkin langkah logis untuk ... katakanlah, kami melihat bahaya dari luar, jadi mari kita mengurung diri kita," ujar juru bicara WHO tersebut.

Sikap WHO inilah salah satunya yang membuat Presiden AS Donald Trump menyebut WHO 'boneka China'.

Lihat juga video 'RI Kejar Target WHO, 267 Ribu Pemeriksaan Covid-19 Per Minggu':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2