Mali Bebaskan 100 Jihadis Demi Pembebasan Politikus dan Warga Prancis

Novi Christiastuti - detikNews
Senin, 05 Okt 2020 19:15 WIB
Sophie Petronin was abducted in 2016 - SITE INTELLIGENCE GROUP/AFP/File
Sophie Petronin diculik sejak tahun 2016 (SITE INTELLIGENCE GROUP/AFP/File)
Bamako -

Otoritas Mali membebaskan lebih dari 100 tersangka atau terpidana jihadis demi pembebasan politikus top dan seorang relawan kemanusiaan Prancis yang disandera. Pembebasan massal semacam ini tergolong langka di Mali yang dilanda pemberontakan.

Seperti dilansir AFP, Senin (5/10/2020), Mali yang terletak di Afrika Barat sudah 8 tahun terakhir dilanda pemberontakan Islamis yang menewaskan ribuan orang.

Soumaila Cisse, yang mantan pemimpin oposisi dan tiga kali menjadi calon presiden (capres), diculik pada 25 Maret lalu saat menggelar kampanye di wilayah Niafounke menjelang pemilu legislatif. Sedangkan Sophie Petronin, yang seorang pekerja amal Prancis, diculik oleh sekelompok pria bersenjata pada 24 Desember 2016 di kota Gao. Petronin menjadi warga Prancis terakhir yang disandera di luar negeri.

Video terakhir yang menampilkan Petronin diterima pada Juni 2018. Dalam video itu, dia tampak kelelahan dan kurus, dan memohon kepada Presiden Prancis Emmanuel Macron untuk membebaskan dirinya. Sebuah video lainnya yang muncul pada November 2018, yang tidak menampilkan langsung Petronin, para penculiknya menyebut kesehatannya memburuk.

"Sebagai bagian dari negosiasi untuk mendapatkan pembebasan Soumaila Cisse dan Sophie Petronin, lebih dari 100 tahanan jihadis dibebaskan pada akhir pekan ini," tutur salah satu orang yang bertanggung jawab atas negosiasi kepada AFP. Identitas orang ini tidak bisa diungkap ke publik.

Secara terpisah, seorang pejabat pada dinas keamanan Mali mengonfirmasi informasi tersebut. Disebutkan pejabat, yang juga tidak disebut namanya itu, bahwa para tahanan jihadis dibebaskan di wilayah Niono dan Tessalit setelah tiba dengan pesawat.

Seorang anggota parlemen di wilayah Tessalit, yang enggan disebut identitasnya, mengonfirmasi kepada AFP bahwa 'sejumlah besar tahanan jihadis' tiba di sana pada Minggu (4/10) waktu setempat.

Otoritas Mali mencurigai bahwa kelompok terkait Al-Qaeda, yang dipimpin oleh Amadou Koufa dan aktif di wilayah Mali bagian tengah, berada di balik tindak penculikan tersebut.

Pembebasan ini diputuskan saat pemerintah interim menguasai Mali selama 18 bulan sebelum pemilu digelar usai junta militer melengserkan Presiden Ibrahim Boubacar Keita pada Agustus lalu. Penculikan mantan pemimpin oposisi Cisse menjadi salah satu faktor yang mengobarkan aksi protes besar-besaran yang berujung penggulingan Keita, yang dianggap gagal mengatasi para jihadis dan pemberontakan Islam.

(nvc/ita)