Debat Capres AS Sengit, Trump dan Biden Berebut Berbicara

Novi Christiastuti - detikNews
Rabu, 30 Sep 2020 09:03 WIB
President Donald Trump, left, and Democratic presidential candidate former Vice President Joe Biden, right, with moderator Chris Wallace, center, of Fox News during the first presidential debate Tuesday, Sept. 29, 2020, at Case Western University and Cleveland Clinic, in Cleveland, Ohio. (AP Photo/Patrick Semansky)
Debat capres AS antara Trump dan Biden (AP Photo/Patrick Semansky)
Cleveland -

Debat capres Amerika Serikat (AS) perdana antara Donald Trump dan penantangnya, Joe Biden, diwarnai adu argumen sengit sekitar 20 menit setelah dimulai. Saat membahas topik soal Mahkamah Agung, Trump terus menginterupsi Biden yang menyampaikan argumennya.

Seperti dilansir CNN, Rabu (30/9/2020), Trump terus berbicara saat Biden dan moderator Christ Wallace dari Fox News berbicara. Akibatnya, suara ketiganya saling tumpang-tindih selama beberapa menit.

Trump terus-menerus menyela hampir setiap jawaban Biden saat membahas topik soal kandidat hakim agung, Amy Coney Barrett, yang baru saja dipilih Trump untuk menggantikan Ruth Bader Ginsburg yang tutup usia. Biden mempertanyakan soal rencana layanan kesehatan yang mungkin diajukan Barrett nantinya.

Interupsi yang dilontarkan Trump mengubah bagian awal debat menjadi sesi 'debat lepas' yang memberikan sedikit ruang untuk menjajaki perbedaan kebijakan antara kedua capres. Hingga pada menit ke-18, Biden yang tampaknya jengkel mengatakan kepada Trump: "Bisahkah Anda diam, bung?"

Trump mengabaikan Biden dan terus berbicara saat moderator Wallace sedang bicara. "Tetaplah mengoceh, bung," ucap Biden lagi.

"Orang-orang tahu, Joe, Selama 47 tahun, Anda tidak melakukan apa-apa," timpal Trump.

Topik Mahkamah Agung menjadi pembahasan sengit karena Trump memilih kandidat baru menjelang akhir masa jabatannya. "Kami memenangkan pemilu dan karena itu kami memiliki hak untuk memilihnya," kata Trump, membela keputusan kontroversialnya untuk terus maju dengan pencalonan Barrett.

Biden mengulangi keyakinannya bahwa pemenang pemilu nantinya yang harus memilih hakim agung berikutnya. "Kita harus menunggu dan melihat apa hasil dari pemilihan ini," ujarnya.

(nvc/ita)