Presiden China: Level Kebahagiaan di Xinjiang Naik, Pelatihan Lanjut Terus

Novi Christiastuti - detikNews
Senin, 28 Sep 2020 09:58 WIB
Chinese President Xi Jinping speaks during an event to honor some of those involved in Chinas fight against COVID-19 at the Great Hall of the People in Beijing, Tuesday, Sept. 8, 2020. Chinese leader Xi Jinping is praising Chinas role in battling the global coronavirus pandemic and expressing support for the U.N.s World Health Organization, in a repudiation of U.S. criticism and a bid to rally domestic support for Communist Party leadership. (AP Photo/Mark Schiefelbein)
Xi Jinping (AP Photo/Mark Schiefelbein)
Beijing -

Presiden China, Xi Jinping, menyatakan bahwa level kebahagiaan di kalangan semua kelompok etnis di Xinjiang sedang meningkat. Xi menegaskan bahwa otoritas China berencana tetap melanjutkan pelatihan dan mengajar warga Xinjiang soal pandangan yang 'benar' tentang China.

Seperti dilansir Reuters, Senin (28/9/2020), China menuai kritikan atas perlakuannya terhadap etnis Muslim Uighur dan dugaan praktik kerja paksa di Xinjiang. Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang mengutip laporan kredibel menyebut 1 juta warga Muslim di Xinjiang ditahan di kamp-kamp untuk dipekerjakan.

Otoritas China telah berulang kali membantah adanya penganiayaan dan penindasan terhadap Uighur. Ditegaskan juga oleh China bahwa kamp-kamp di Xinjiang adalah pusat pelatihan kejuruan yang diperlukan untuk mengatasi ekstremisme.

China bahkan menyebut bahwa kekuatan anti-China berupaya memfitnah kebijakan yang diterapkan di Xinjiang.

"Rasa merasakan hasil, kebahagiaan dan keamanan di antara orang-orang dari semua kelompok etnis (di Xinjiang) terus meningkat," sebut Xi dalam konferensi Partai Komunis China yang digelar Jumat (25/9) dan Sabtu (26/9) waktu setempat.

Lebih lanjut, Xi menyebut bahwa penting untuk mendidik penduduk Xinjiang soal pemahaman tentang bangsa China dan membimbing 'semua kelompok etnis dalam membangun perspektif yang benar soal negara ini, sejarah dan kebangsaan'.

"Praktik telah menunjukkan bahwa strategi partai untuk mengatur Xinjiang dalam era baru sepenuhnya benar," tegasnya.

Xi menyatakan bahwa strategi tersebut -- mengajar penduduk Xinjiang soal pemahaman tentang China -- harus menjadi pendekatan jangka panjang.

Pada Juli lalu, sejumlah pejabat China dijatuhi sanksi oleh Amerika Serikat (AS) terkait dugaan pelanggaran HAM terhadap Uighur. Sanksi yang dijatuhkan di bawah Undang-undang Magnitsky Global itu memungkinkan AS untuk menargetkan pelanggar HAM dengan membekukan aset-aset mereka di AS, melarang mereka masuk ke AS dan melarang warga AS melakukan transaksi bisnis dengan mereka.

(nvc/ita)