Muhyiddin Menangi Pemilu Sabah, Dinilai Lulus Tes Besar Pertama

Rolando Fransiscus Sihombing - detikNews
Minggu, 27 Sep 2020 03:03 WIB
Malaysias former interior minister Muhyiddin Yassin (C), his wife Noraini Abdul Rahman  talk to the press outside his home in Kuala Lumpur on February 29, 2020. - Muhyiddin was named as Malaysias new prime minister on February 29, royal officials said, signalling the end of Mahathir Mohamads rule and return to power of a scandal-plagued party. (Photo by Mohd RASFAN / AFP) / The erroneous mention[s] appearing in the metadata of this photo by Mohd RASFAN has been modified in AFP systems in the following manner: [---] instead of [Malaysian politician Anwar Ibrahim (L)]. Please immediately remove the erroneous mention[s] from all your online services and delete it (them) from your servers. If you have been authorized by AFP to distribute it (them) to third parties, please ensure that the same actions are carried out by them. Failure to promptly comply with these instructions will entail liability on your part for any continued or post notification usage. Therefore we thank you very much for all your attention and prompt action. We are sorry for the inconvenience this notification may cause and remain at your disposal for any further information you may require.
Foto: Muhyiddin Yassin (Mohd RASFAN/AFP)
Semporna -

Perdana Menteri (PM) Malaysia Tan Sri Muhyiddin Yassin melewati ujian politik terbesarnya sejak menjabat dengan kemenangan tipis dalam pemilihan negara bagian Sabah. Muhyiddin dinilai lulus ujian besar.

Seperti dilansir kantor berita AFP, Minggu (27/9/2020), para analis telah memperingatkan kekalahan di negara bagian Sabah karena koalisi pemerintah Muhyiddin Yassin yang rapuh, Muhyiddin berkuasa tanpa pemilihan pada Maret.

Permasalahan bertambah, pemungutan suara dilakukan hanya beberapa hari setelah pemimpin oposisi Anwar Ibrahim meluncurkan tawaran untuk menggulingkan pemerintahan Muhyiddin, Anwar Ibrahim mengklaim telah mengumpulkan cukup dukungan dari anggota parlemen untuk mengambil alih kekuasaan.

Malaysia dicengkeram oleh kekacauan politik sejak runtuhnya pemerintahan reformis pada bulan Februari, yang dipimpin oleh Mahathir Mohamad dan termasuk Anwar Ibrahim.

Muhyiddin merebut kekuasaan yang didukung oleh partai yang dilanda skandal, yang dituduh kritikus tidak memiliki legitimasi, dan pemerintahannya hanya memiliki suara mayoritas tipis di parlemen.

Pemilu di Sabah diadakan setelah koalisi Muhyiddin meluncurkan tawaran untuk mengambil alih pemerintah daerah yang dikendalikan oposisi. Tapi alih-alih menyerahkan kekuasaan, menteri utama membubarkan majelis negara bagian.

Setelah kampanye yang sengit, koalisi partai-partai yang mendukung pemerintah nasional memenangkan 38 dari 73 kursi di legislatif, dengan oposisi mengambil 32 kursi, dan sisanya ke independen.

Muhyiddin memuji kemenangan itu dalam pidato yang disiarkan televisi, dia mengatakan itu "menunjukkan bahwa orang-orang di Sabah memiliki kepercayaan pada semua kandidat yang kami ajukan".

Walaupun hasilnya tidak secara langsung mempengaruhi perimbangan kekuasaan di tingkat nasional, hal itu adalah ujian utama popularitas Muhyiddin. Jika dia melakukannya dengan buruk, mitra koalisi dinilai mungkin telah menarik dukungan mereka dari pemerintahnya dan memaksakan pemilihan nasional secara cepat.

Tetapi Bridget Welsh, seorang ahli Malaysia dari Universitas Nottingham, memperingatkan masalahnya masih jauh dari selesai.

"Dia lulus tes pemilihan besar pertama, tapi nyaris tidak lulus," katanya kepada AFP. "Dia tetap seorang pria dengan waktu pinjaman."

Kekuatan permainan Anwar Ibrahim telah menambah tekanan pada Muhyiddin tetapi tampaknya tidak mendapatkan daya tarik untuk saat ini.

(rfs/rfs)