Massa Pro-Demokrasi Gelar Unjuk Rasa, Tuntut PM Thailand Mundur

Lisye Sri Rahayu - detikNews
Minggu, 20 Sep 2020 03:06 WIB
Anti-government protesters take part in a pro-democracy rally in Bangkok on September 19, 2020. - Tens of thousands of pro-democracy protesters massed close to Thailands royal palace on September 19, in a huge rally calling for PM Prayut Chan-O-Cha to step down and demanding reforms to the monarchy. (Photo by Vivek Prakash / AFP)
Unjuk rasa di Thailand (Foto: AFP/VIVEK PRAKASH)
Bangkok -

Puluhan ribu massa pro-demokrasi berkumpul di dekat Istana Kerajaan Thailand pada Sabtu waktu setempat. Aksi unjuk rasa ini menuntut PM Prayut Chan-O-Cha untuk mundur dan reformasi monarki.

Dilansir AFP, Sabtu (19/9/2020) Kerajaan Thailand telah menyaksikan aksi yang sama hampir setiap hari dari kelompok-kelompok yang dipimpin pemuda sejak pertengahan Juli yang menyerukan pengunduran diri PM Prayut, mantan panglima militer di balik kudeta 2014, dan perombakan total pemerintahannya.

Beberapa juga menuntun reformasi monarki Thailand yang sangat kaya dan kuat. Tuntutan ini dulunya dianggap tabu di negara itu karena undang-undang pencemaran nama baik kerjaan yang keras.

Gerakan yang berkembang, sebagian terinspirasi oleh protes pro-demokrasi Hong Kong, sebagian besar tanpa pemimpin.

Namun demikian, demonstrasi yang berlangsung akhir pekan ini diorganisir oleh mahasiswa Universitas Thammasat Bangkok, sebuah kelompok yang paling vokal tentang peran keluarga di kerajaan Thailand.

Guru sejarah Patipat, 29 mengatakan pemerintah tidak akan bisa mengabaikan demonstrasi ini.

"Hari ini adalah salah satu titik balik dalam sejarah Thailand," katanya kepada AFP.

Biro Polisi Metropolitan Bangkok mengatakan lebih dari 15.000 pengunjuk rasa telah berkumpul di sekitar kampus pusat kota universitas dan daerah sekitar pada malam hari. Meskipun penyelenggara protes jumlah massa jauh lebih besar.

Wartawan AFP di lapangan memperkirakan jumlah massa mendekati 30.000 orang. Ini akan menjadikannya salah satu demonstrasi terbesar yang pernah dilihat kerajaan sejak kudeta 2014.

Memenuhi lapangan Sanam Luang di depan Istana Kerajaan, para aktivis LGBT mengibarkan bendera pelangi saat pengunjuk rasa berbaris melambaikan salam tiga jari, simbol demokrasi yang diambil dari trilogi film Hunger Games.

"Kami menyerukan Prayut Chan-O-Cha untuk segera mengundurkan diri," kata aktivis dan penyelenggara protes, Parit Chiwarak kepada AFP.

Para pemimpin mahasiswa juga telah berjanji untuk mendorong reformasi ke monarki dengan mengatakan mereka berharap "menyesuaikan dengan masyarakat"

"Saya yakin institusi itu bisa dimodernisasi," kata seorang demonstran yang berusia pertengahan 20-an tahun yang menolak untuk menyebutkan namanya.

Pengunjuk rasa lain mengenakan mahkota palsu dan kemeja bertuliskan 'tolong sadarilah negara ini milik rakyat'.

Para pengunjuk rasa mengatakan mereka akan bermalam di Sanam Luang sebelum long march ke Gedung Pemerintah pada Minggu pagi-sebuah tindakan yang telah diperingatkan oleh pihak yang berwenang.

Sekitar 10.000 polisi berseragam dan berpakaian preman berpatroli di daerah itu ketiak kerumunan bertambah. Tenda didirikan oleh pengunjuk rasa yang menjual kaus oblong, bendera dan bir.

Tonton juga 'Pengampunan Raja Thailand Untuk Eks Selir yang Ambisi Jadi Ratu':

[Gambas:Video 20detik]

(lir/lir)