Dikritik Publik terkait Kasus PRT Indonesia, Bos Bandara Changi Mundur

Novi Christiastuti - detikNews
Sabtu, 12 Sep 2020 14:22 WIB
(FILES) In this file photo taken on January 10, 2007, the then president and CEO of CapitaLand Liew Mun Leong speaks at the groundbreaking ceremony of the Macau Studio City in Macau. - Liew, the chairman of Singapores airport operator, stepped aside late on September 10, 2020 after he faced a public backlash when a judge cleared an Indonesian maid accused of stealing from his family and criticised the case. (Photo by Mike CLARKE / AFP)
Liew Mun Leong dalam foto tahun 2007 (AFP/MIKE CLARKE)
Singapura -

Bos Changi Airport Group, Liew Mun Leong, mengundurkan diri dari jabatannya setelah dihujani kritikan publik terkait kasus seorang pembantu rumah tangga (PRT) Indonesia yang pernah bekerja untuknya. Hakim Singapura baru saja membebaskan PRT Indonesia itu atas tuduhan mencuri barang-barang milik keluarga Liew.

Seperti dilansir AFP, Sabtu (12/9/2020), skandal yang melibatkan Liew ini memicu kemarahan publik Singapura dan menimbulkan banyak pertanyaan soal bagaimana sistem memperlakukan seorang pengusaha terkemuka di negara itu sangat berbeda dibandingkan dengan seorang PRT bergaji rendah.

Dengan meningkatnya seruan agar dia mengundurkan diri usai putusan terbaru pengadilan Singapura dijatuhkan pekan lalu, Liew mengumumkan mundur dari jabatannya sebagai Direktur Changi Airport Group pada Kamis (10/9) malam waktu setempat.

"Saya tidak ingin situasi saya saat ini menjadi gangguan," ucap Liew yang berusia 74 tahun ini saat mengumumkan pengunduran dirinya. Dia juga mengumumkan mundur dari jabatannya di beberapa perusahaan lainnya, termasuk sebagai penasihat investor negara, Temasek.

Kasus yang membuat Liew dikritik ini berawal tahun 2016, saat keluarga Liew memecat seorang PRT Indonesia bernama Parti Liyani yang bekerja untuknya. Keluarga Liew menuduh Parti mencuri barang-barang mereka yang nilainya mencapai SG$ 34 ribu (sekitar Rp 372,9 juta), termasuk jam tangan dan pakaian.

Parti membantah seluruh tuduhan yang dijeratkan kepadanya. Namun dalam persidangan tahun 2019 lalu, dia dinyatakan bersalah atas empat dakwaan pencurian dan divonis lebih dari 2 tahun penjara.

Saat sidang banding digelar di Pengadilan Tinggi Singapura, hakim membatalkan putusan pengadilan yang lebih rendah dan menyatakan bahwa keluarga Liew memiliki 'motif tidak tepat' untuk melontarkan tuduhan terhadap Parti.

Terungkap dalam sidang banding bahwa Parti hendak melaporkan majikannya kepada otoritas berwenang saat dirinya juga diperintahkan membersihkan rumah dan kantor putra Liew. Hal ini tergolong ilegal di Singapura, karena Parti hanya dipekerjakan untuk membersihkan rumah Liew saja.

Simak juga video 'MPR Minta Menlu Tindak WNI Jika Terlibat 'Penjualan' PRT Online':

[Gambas:Video 20detik]



Selanjutnya
Halaman
1 2