Hubungan Memanas, Turki Siap Berdialog dengan Yunani

Rita Uli Hutapea - detikNews
Rabu, 26 Agu 2020 13:12 WIB
Ambisi Maritim Turki di Laut Tengah Picu Ketegangan dengan Eropa
Foto: DW (News)
Jakarta -

Pemerintah Turki menyatakan bahwa pihaknya siap untuk melakukan pembicaraan dengan Yunani tanpa prasyarat, terkait pertikaian yang meningkat atas gas Mediterania timur. Pertikaian itu membuat dua sekutu NATO tersebut sama-sama melakukan latihan militer.

Pernyataan Turki itu disampaikan menjelang pertemuan informal para menteri luar negeri Uni Eropa di Berlin, Jerman pada Kamis (27/8) dan Jumat (28/8), di mana Yunani diperkirakan akan menekan Uni Eropa untuk memberikan sanksi pada saingan regional bersejarahnya itu.

Tetapi negara-negara Uni Eropa lebih memilih untuk tidak membuat jengkel Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, dan Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas bolak-balik antara Athena dan Ankara dalam upaya untuk meredam retorika dan membuat pembicaraan kembali ke jalurnya.

Yang dipertaruhkan adalah akses aman Eropa ke cadangan gas yang baru ditemukan serta stabilitas NATO dan seluruh wilayah yang bergejolak, termasuk Libya dan Mesir yang dilanda perang.

"Kami mendukung negosiasi untuk pembagian yang adil (gas) tetapi tidak ada yang harus menetapkan prasyarat," kata Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu setelah pembicaraan di Ankara dengan Maas, seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (26/8/2020).

"Ini tidak bisa terjadi dengan prasyarat yang ditetapkan oleh Yunani," imbuhnya.

Sementara itu, setelah pertemuannya dengan Maas, Menteri Luar Negeri Yunani Nikos Dendias mengatakan Athena "siap untuk berdialog - tetapi dialog ini tidak dapat terjadi di bawah ancaman (Turki)".

Maas mengakui bahwa perselisihan tersebut telah memasuki fase "sangat kritis".

Namun demikian, "tidak ada yang mau menyelesaikan masalah ini dengan cara militeristik," kata Maas melalui seorang penerjemah, "dan ada kemauan di kedua sisi untuk berdialog."

Klaim maritim Yunani didukung oleh seluruh Uni Eropa, tetapi blok tersebut sejauh ini menahan diri untuk memberikan sanksi berat kepada Ankara karena khawatir bahwa Erdogan akan menindaklanjuti dengan ancaman untuk melepaskan gelombang migran yang sekarang tinggal di Turki.

Cavusoglu memuji upaya mediasi Jerman tetapi mengatakan Ankara telah membuat isyarat niat baik dengan mengumumkan jeda aktivitas eksplorasi bulan lalu.