Round-Up

Hagia Sophia hingga Gereja Bersejarah Chora Jadi Masjid di Era Erdogan

Tim Detikcom - detikNews
Minggu, 23 Agu 2020 06:13 WIB
Turkeys President Recep Tayyip Erdogan (C-R) arrives with officials for a visit of Hagia Sophia during the preparations for the Friday prayer in Istanbul, on July 23, 2020. - The first prayers at Hagia Sophia since the Istanbul landmark was reconverted to a mosque will take place on July 23, 2020. Turkeys top court paved the way for the conversion in a decision to revoke the edifices museum status conferred nearly a century ago. The sixth-century building had been open to all visitors, regardless of their faith, since its inauguration as a museum in 1935. (Photo by Ozan KOSE / AFP)
Foto: Presiden Erdogan saat berada di Hagia Sophia. (AFP/OZAN KOSE).
Jakarta -

Sudah dua gereja bersejarah yang diubah Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, menjadi masjid di negara tersebut. Usai Hagia Sophia, Erdogan mengubah Gereja Chora menjadi masjid di Turki.

Gereja Chora merupakan satu bangunan Bizantium paling terkenal di Istanbul. Dilansir dari Reuters, Jumat (21/8/2020), gereja Juruselamat Suci Abad Pertengahan di Chora itu dibangun di dekat tembok Konstantinopel. Bangunan gereja itu berisi mosaik dan lukisan dinding Bizantium abad ke-14 yang menampilkan pemandangan dan cerita-cerita dari Alkitab.

Hiasan itu ditutup setelah kota itu ditaklukkan oleh Ottoman Muslim pada tahun 1453. Mosaik dan lukisan dinding itu dibuka kembali saat, seperti di Hagia Sophia, bangunan itu diubah menjadi museum oleh pemerintah Turki lebih dari 70 tahun lalu.

Tahun lalu, pengadilan Turki membatalkan keputusan pemerintah Tukri tahun 1945 yang mengubah Chora, atau dikenal sebagai Kariye dalam bahasa Turki, menjadi museum yang dikelola oleh Kementerian Pendidikan.

Dekret soal berubahnya peruntukan Chora atau Kariye menjadi masjid ditandatangani oleh Erdogan dan diterbitkan dalam lembaran resmi Turki, pada Jumat ini. Dalam dekret itu disebutkan "pengelolaan Masjid Kariye dipindahkan ke Direktorat Urusan Agama, dan (masjid) dibuka untuk beribadah".

Gedung bersejarah Kariye yang berusia 1.000 tahun itu sangat mirip dengan Hagia Sophia, yang lebih besar dan lebih terkenal di Istanbul. Gedung itu awalnya diubah menjadi Masjid Kariye, setengah abad setelah penaklukan Konstantinopel 1453 oleh Ottoman.

Gedung itu kemudian menjadi Museum Kariye setelah Perang Dunia II saat Turki mendorong terciptanya republik baru yang lebih sekuler. Sekelompok sejarawan seni Amerika kemudian membantu memulihkan mozaik gereja asli dan membukanya untuk umum pada 1958.

Tapi Erdogan menempatkan penekanan politik yang lebih besar pada pertempuran yang mengakibatkan kekalahan Bizantium oleh Ottoman. Pengadilan administrasi tertinggi Turki menyetujui konversi museum menjadi masjid pada November tahun lalu. Erdogan, yang partainya berakar pada politik Islam, telah memosisikan dirinya sebagai pemimpin Muslim Turki yang taat.

Keputusan untuk mengubah Museum Kariye menjadi masjid tersebut disampaikan Erdogan hanya sebulan setelah perubahan kontroversial serupa untuk Hagia Sophia, yang diakui sebagai Warisan Dunia UNESCO. Langkah Erdogan tersebut telah menambah masalah Turki dengan para uskup di dunia Ortodoks dan Katolik.

Untuk pertama kalinya dalam 86 tahun, Hagia Sophia melaksanakan ibadah Salat Idul Adha. Masyarakat memadati dalam hingga pelataran bangunan bersejarah tersebut.Untuk pertama kalinya dalam 86 tahun, Hagia Sophia melaksanakan ibadah Salat Idul Adha. Masyarakat memadati dalam hingga pelataran bangunan bersejarah tersebut. Foto: AP Photo

Untuk diketahui, keputusan Erdogan yang memerintahkan gereja Ortodoks kuno menjadi masjid dan kemudian jadi museum Istanbul yang populer, untuk diubah kembali menjadi tempat ibadah Muslim mendapat kecaman dari pemerintah Yunani. Atas keputusan Erdogan mengubah fungsi gereja Chora menjadi masjid, Yunani kembali menunjukkan kegeramannya.

Seperti dilansir kantor berita AFP, Sabtu (22/8/2020), Kementerian Luar Negeri Yunani menyebut keputusan itu sebagai "provokasi lain terhadap orang-orang beragama di manapun oleh pemerintah Turki".

Anggota parlemen partai oposisi HDP, Garo Paylan menyebut transformasi itu "memalukan bagi negara kita".

"Salah satu simbol identitas multikultural yang dalam dan sejarah multi-agama negara kita telah dikorbankan," tulisnya di Twitter.

Sejarawan Kekaisaran Ottoman Zeynep Turkyilmaz menyebut perubahan itu "kehancuran" karena dinding bangunan dilapisi dengan karya seni Kristen yang harus ditutup atau diplester - seperti yang dilakukan oleh Ottoman.

"Tidak mungkin menyembunyikan lukisan dinding dan mozaik karena menghiasi seluruh bangunan," kata sejarawan itu.

Namun beberapa warga setempat mendukung penuh perubahan tersebut. "Ada lusinan, ratusan gereja, sinagog di Istanbul dan hanya beberapa yang dibuka untuk salat sebagai masjid. Ada banyak toleransi dalam budaya kami," kata seorang warga, Yucel Sahin.

Selanjutnya
Halaman
1 2