Lacak Asal-usul Virus Corona, Peneliti Thailand Berburu Kelelawar

Novi Christiastuti - detikNews
Kamis, 13 Agu 2020 14:51 WIB
A researcher swabs a bats mouth to take samples at Sai Yok National Park in Kanchanaburi province, west of Bangkok, Thailand, Friday, July 31, 2020. Researchers in Thailand have been trekking though the countryside to catch bats in their caves in an effort to trace the murky origins of the coronavirus. (AP Photo/Sakchai Lalit)
Peneliti melakukan tes swab pada kelelawar di Taman Nasional Sai Yok, Thailand (AP Photo/Sakchai Lalit)
Bangkok -

Para peneliti di Thailand berburu kelelawar di gua-gua pinggiran negara itu dalam upaya melacak asal-usul virus Corona (COVID-19) yang kini merajalela secara global. Pelacakan ini dilakukan setelah penelitian awal menunjukkan kelelawar sebagai sumber virus mematikan tersebut.

Seperti dilansir Associated Press, Kamis (13/8/2020), kecocokan terdekat dengan virus Corona sejauh ini ditemukan pada kelelawar tapal kuda (horseshoe bat) yang ada di Yunnan, China bagian selatan.

Thailand sendiri diketahui memiliki 19 spesies kelelawar tapal kuda, namun para peneliti menyatakan bahwa kelelawar-kelelawar itu belum menjalani tes Corona.

Para peneliti Thailand melakukan pendakian di kawasan Taman Nasional Sai Yok di Provinsi Kanchanaburi untuk memasang jebakan bagi sekitar 200 ekor kelelawar dari tiga gua berbeda.

Tim dari Pusat Ilmu Kesehatan-Kemunculan Penyakit Menular Palang Merah Thailand mengambil sampel air liur, darah dan feses dari kelelawar-kelelawar itu, sebelum melepaskan kembali mamalia itu.

Para peneliti bekerja sepanjang malam hingga keesokan harinya, mengambil sampel tidak hanya dari kelelawar tapal kuda tapi juga dari kelelawar spesies lainnya yang ditangkap untuk lebih memahami patogen yang dibawa binatang tersebut.

Tim ini dipimpin Wakil Kepala Pusat Ilmu Kesehatan Palang Merah Thailand, Supaporn Wacharapluesadee, yang meneliti kelelawar dan penyakit-penyakit terkait kelelawar selama lebih dari 20 tahun. Supaporn menjadi bagian kelompok yang membantu mengonfirmasi kasus Corona pertama di luar China pada Januari lalu.

Supaporn meyakini bahwa timnya akan menemukan virus yang sama yang menyebabkan COVID-19 dalam kelelawar-kelelawar di Thailand. "Pandemi ini tidak mengenal perbatasan. Penyakit ini bisa menyebar dengan dibawa kelelawar. Bisa pergi ke mana saja," ucapnya.

Data penghitungan Johns Hopkins University (JHU) menyatakan bahwa virus Corona sejauh ini telah menginfeksi lebih dari 20,6 juta orang dan menewaskan lebih dari 749 ribu orang di berbagai negara.

Tonton juga video 'WHO Akan Tinjau Keamanan Vaksin Buatan Rusia':

[Gambas:Video 20detik]



(nvc/ita)