Eks Agen CIA Sebut Bisa Jadi Ada Peledak Militer dalam Ledakan di Lebanon

Novi Christiastuti - detikNews
Rabu, 05 Agu 2020 14:27 WIB
Ledakan besar mengguncang Beirut, Lebanon. Total saat ini korban tewas akibat insiden itu berjumlah 78 orang.
Ledakan besar di pelabuhan Beirut, Lebanon, memicu kepulan asap berwarna kemerah-merahan (Associated Press)

May menegaskan bahwa hal ini bukan berarti amonium nitrat tidak ada di lokasi ledakan, namun menunjukkan bahwa ada 'benda-benda lainnya' di lokasi ledakan.

"Saya telah melakukan investigasi banyak insiden dengan pemerintah, baik nasional maupun internasional, dan jelas bagi saya bahwa ini merupakan sejumlah besar peledak atau material energetik yang disimpan di sebuah gedung yang terbakar dan kebakaran itu meluas hingga ke peledak, memicu insiden," terang May.

Sejauh ini, belum ada bukti yang menunjukkan ledakan di Beirut sebagai sebuah serangan. Menteri Dalam Negeri Lebanon, Mohammed Fahmi, menyebut dugaan penyebab ledakan itu adalah detonasi lebih dari 2.700 ton amonium nitrat yang disimpan di salah satu gudang pelabuhan.

Perdana Menteri Hassan Diab telah meluncurkan penyelidikan terhadap ledakan ini. Dia menegaskan 'tidak akan beristirahat hingga kita menemukan pihak yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi, mengadili mereka dan menjatuhkan hukuman maksimum'.

Dalam komentarnya, Baer menyatakan tidak yakin bahwa kebenaran di balik ledakan ini akan terungkap. "Itu nyaris tampak seperti insiden. Itu tidak kompeten, dan mungkin itu korupsi, tapi pertanyaannya adalah, apakah itu peledak militer, untuk siapa atau mengapa disimpan di sana?" ucapnya.

"Saya sudah bekerja di Lebanon bertahun-tahun, dan tidak akan ada yang ingin mengakui mereka mereka menyimpan peledak militer di pelabuhan. Itu hal yang bodoh untuk dilakukan," tandasnya.


(nvc/rdp)