Resmikan Pembangunan Kuil Hindu di Tanah Sengketa, PM India Tuai Kritik

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Rabu, 05 Agu 2020 13:58 WIB
FILE-In this Nov. 11, 2019 file photo, Hindu devotees pray while walking towards a temple, in Ayodhya, India. India’s Prime Minister Narendra Modi will attend a groundbreaking ceremony next month for a Hindu temple on a disputed site in northern India where a 16th-century mosque was torn down by Hindu hard-liners in 1992. The trust overseeing the temple construction says the ceremony is set for Aug. 5, a date they say is astrologically auspicious for Hindus but that also marks a year since the Indian Parliament revoked the semi-autonomous status of its only Muslim-majority state, Jammu and Kashmir. (AP Photo/Rajesh Kumar Singh, File)
Foto: PM Narendra Modi akan resmikan kuil di situs suci Ayodhya (AP/Rajesh Kumar Singh)

Kota suci Ayodhya di India utara telah lama menjadi garis patahan dalam perpecahan agama India, dan telah menjadi pemicu beberapa kekerasan sektarian terburuknya.

Umat Hindu yang taat percaya bahwa Lord Ram, dewa pejuang, lahir di sana sekitar 7.000 tahun yang lalu, tetapi sebuah masjid dibangun di atas tempat kelahirannya pada abad ke-16.

Pada 1980-an, sebuah gerakan Hindu mulai membuat agitasi agar masjid dihilangkan dan pada 1992, massa menghancurkannya dengan sekop, kapak, dan tangan kosong. Insiden ini memicu kerusuhan agama yang menewaskan 2.000 orang, kebanyakan dari mereka adalah Muslim.

Pertempuran hukum soal sengketa ini berlangsung lama, tetapi pada bulan November, dalam kemenangan besar bagi BJP, pengadilan tinggi India memberikan situs tersebut kepada umat Hindu, sehingga memungkinkan sebuah kuil "menyentuh langit" untuk dibangun.

"Ini adalah pencapaian besar bagi (Modi). Dia akan membuat posisinya secara permanen dalam sejarah semata-mata pada kekuatan kuil ini," kata penulis biografi Nilanjan Mukhopadhyay kepada AFP.


(rdp/nvc)