Israel Selidiki Gubernur Yerusalem Atas Tuduhan Terorisme

Novi Christiastuti - detikNews
Selasa, 21 Jul 2020 18:25 WIB
A picture taken on December 13, 2017, shows the Israeli and US flags placed on the roof of an Israeli settlement building in East Jerusalem and Jerusalems Old City with the Dome of the Rock mosque in the centre. / AFP PHOTO / AHMAD GHARABLI
Ilustrasi -- Yerusalem Timur (AFP Photo)
Yerusalem -

Israel tengah menyelidiki Gubernur Yerusalem dari pihak Palestina atas tuduhan terorisme. Tuduhan terorisme ini merupakan yang pertama kali dilontarkan terhadap pemimpin asal Palestina yang sudah beberapa kali ditangkap otoritas Israel tersebut.

Seperti dilansir AFP, Selasa (21/7/2020), Gubernur Yerusalem dari Palestina, Adnan Ghaith, telah ditangkap pasukan keamanan Israel lebih dari 10 kali dalam dua tahun terakhir. Namun kebanyakan tuduhan yang dilontarkan merupakan pelanggaran ringan seperti terlibat dalam aktivitas politik 'ilegal' di Yerusalem.

Selama ini, Ghaith biasanya dibebaskan sekitar satu atau dua hari usai ditangkap Israel.

Dalam pernyataan terbaru, pengacara Ghaith, Mohammed Mahmoud, menuturkan kepada AFP bahwa selain dakwaan aktivitas politik ilegal, kliennya juga tengah diselidiki atas tuduhan 'merencanakan aksi terorisme' dan diperkirakan tidak akan dibebaskan dalam waktu dekat.

Di bawah aturan hukum Israel, berbagai macam pelanggaran ada di bawah delik terorisme. Adanya penyelidikan yang tengah dilakukan, bukan berarti Ghaith diduga merencanakan tindak kekerasan.

Disebutkan Mahmoud bahwa ini merupakan pertama kalinya Ghaith menjadi subjek penyelidikan terorisme. Mahmoud menambahkan bahwa badan keamanan domestik Israel, Shin Bet, yang berpengaruh juga terlibat dalam penyelidikan ini. Belum ada komentar dari Shin Bet terkait kasus ini.

Secara terpisah, juru bicara Kepolisian Israel, Micky Rosenfeld, menuturkan kepada AFP bahwa Ghaith ditangkap di rumahnya di Yerusalem Timur pada Sabtu (19/7) waktu setempat. "Dia sedang ditanyai oleh pasukan keamanan," imbuhnya.

Israel menduduki Yerusalem Timur saat Perang Enam Hari atau Perang Arab-Israel tahun 1967 silam dan kemudian menganeksasinya dalam langkah yang tidak pernah diakui oleh komunitas internasional. Israel bersikeras menganggap keseluruhan kota Yerusalem sebagai ibu kotanya, sementara Palestina memandang Yerusalem Timur sebagai ibu kota masa depan bagi negara mereka nantinya.

Selama pendudukan, Israel melarang seluruh aktivitas Otoritas Palestina di kota Yerusalem. Oleh karena itu, Otoritas Palestina memiliki seorang menteri urusan Yerusalem dan seorang Gubernur Yerusalem yang berkedudukan di Al-Ram, yang terletak di sisi lain tembok Israel yang memisahkan kota itu di Tepi Barat.

Ghaith berulang kali ditangkap atas tuduhan melakukan aktivitas Otoritas Palestina di Yerusalem Timur, termasuk berusaha memastikan warga Palestina di kota tersebut memiliki akses pada layanan esensial di tengah pandemi virus Corona (COVID-19).

(nvc/ita)