ADVERTISEMENT

Round-Up

Menetes Air Mata Kanye West Kala Pidato Perdana Maju Jadi Capres

Tim detikcom - detikNews
Senin, 20 Jul 2020 22:10 WIB
People record on their phones as Kanye West makes his first presidential campaign appearance, Sunday, July 19, 2020 in North Charleston, S.C. Rapper Kanye West, in his first event since declaring himself a presidential candidate, delivered a lengthy monologue Sunday touching on topics from abortion and religion to international trade and licensing deals. Whether hes actually seeking the nations highest office remains a question. (Lauren Petracca Ipetracca/The Post And Courier via AP)
Foto: Kanye West (AP/Lauren Petracca Ipetracca)
Washington DC -

Air mata rapper Amerika Serikat Kanye West menetes saat ia berpidato dalam kampanyenya. West yang maju sebagai calon presiden AS ini mengisahkan cerita soal rencana aborsi istrinya.

Seperti dilansir dari AFP, Senin (20/7) sambil mengenakan jaket anti peluru bertuliskan "security," West memberikan pidato yang dramatis di mana ia mengklaim bahwa ia meminta istrinya, Kim Kardashian, untuk melakukan aborsi pada Minggu (19/7). Dia juga berbicara tentang pembangkang AS yang terkenal, Harriet Tubman yang ia sebut "tidak pernah benar-benar membebaskan para budak."

West mengatakan pada acara itu di Charleston, South Carolina, bagaimana dia ingin istrinya melakukan aborsi saat mengandung North, putri tertua mereka. West kemudian mengungkapkan bahwa ayahnya juga dulu pernah menginginkan dirinya digugurkan sewaktu masih dalam kandungan ibunya.

"Ayahku ingin menggugurkanku. Ibuku menyelamatkan hidupku. Tidak akan ada Kanye West karena ayahku terlalu sibuk," kata West sambil menangis.

"Aku hampir membunuh putriku! Aku hampir membunuh putriku!" ujarnya berteriak.

Selain itu selama pidatonya, dia juga berbicara soal Tubman. "Harriet Tubman tidak pernah benar-benar membebaskan para budak, dia hanya meminta para budak pergi bekerja untuk orang kulit putih lainnya," cetusnya.

Pidato West, yang potongan videonya menjadi viral di media sosial, memicu kebingungan, kemarahan, dan juga perhatian terhadap kesehatan mental musisi itu.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT