Round-Up

Saat Interpol Redam Permintaan Bantuan Iran untuk Tangkap Trump

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 01 Jul 2020 07:53 WIB
President Donald Trump looks at his phone during a roundtable with governors on the reopening of Americas small businesses, in the State Dining Room of the White House, Thursday, June 18, 2020, in Washington. (AP Photo/Alex Brandon)
Foto: Presiden AS Donald Trump (AP Photo/Alex Brandon)
Teheran -

Otoritas Iran meminta kepada Interpol untuk membantu menangkap Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terkait pembunuhan jenderal top Iran, Qasem Soleimani, Januari lalu. Namun, Interpol meredam permintaan itu karena sarat akan nuansa politis.

Bantuan penangkapan juga diajukan untuk 35 pejabat AS lainnya yang terlibat dalam operasi militer AS yang menewaskan Soleimani di Irak.

Seperti dilansir AFP, Selasa (30/6/2020), jaksa Teheran, Ali Qasi Mehr, menyatakan bahwa 36 pejabat politik dan militer AS yang 'terlibat dalam pembunuhan' Jenderal Qasem Soleimani 'telah diselidiki dan diperintahkan untuk ditangkap melalui Interpol'.

Terdapat nama Trump dalam daftar 36 pejabat AS yang diperintahkan untuk ditangkap oleh pengadilan Iran.

"Orang-orang ini telah didakwa atas pembunuhan dan aksi terorisme," sebut jaksa Qasi Mehr seperti dikutip kantor berita IRNA.

"Di bagian atas daftar adalah Presiden AS Donald Trump, dan penuntutannya akan berlanjut bahkan setelah masa jabatannya berakhir," tegasnya, merujuk pada pencalonan kembali Trump untuk pilpres AS pada November mendatang.

Disebutkan jaksa Qasi Mehr, seperti dikutip situs berita kehakiman Iran, Mizan Online, bahwa 'peradilan Iran telah merilis surat perintah penangkapan terhadap 36 orang tersebut'.

Jaksa Qasi Mehr juga menyerukan kepada badan kepolisian internasional atau Interpol untuk menerbitkan 'Red Notice', yang sebenarnya bukan perintah penangkapan namun lebih merupakan pemberitahuan bagi orang-orang yang dicari untuk diadili atau dihukum.

Namun, perwakilan khusus AS untuk Iran, Brian Hook menyebut itu hanya propaganda.

"Penilaian kami adalah bahwa Interpol tidak melakukan intervensi dan merilis Red Notice yang didasarkan pada sifat politik," tegas Hook. "Ini propaganda yang sudah biasa," sebutnya seperti dilansir AFP dan CNN, Selasa (30/6).

Dia melanjutkan, bahwa permintaan Iran itu tidak ada kaitannya dengan keamanan nasional. Maka dari itu, menurut Hook, ini merupakan propaganda.

"Ini tidak ada kaitannya dengan keamanan nasional, perdamaian internasional atau memajukan stabilitas, jadi kita melihatnya apa adanya -- ini merupakan sebuah aksi propaganda yang tidak dianggap serius oleh siapa pun dan membuat Iran terlihat bodoh," ucap Hook dalam pernyataannya.

Tonton video 'Iran Minta Bantuan Interpol untuk Tangkap Trump':

selanjutnya Selanjutnya
Halaman
1 2