Pertama Kali, Raja Belgia Minta Maaf Atas Kekerasan Semasa Penjajahan Kongo

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Selasa, 30 Jun 2020 14:16 WIB
Kematian George Floyd picu gelombang protes anti-rasisme. Sejumlah patung tokoh terkenal pun jadi sasaran vandalisme saat gelaran aksi protes itu berlangsung.
Foto: Patung Raja Belgia dirusak karena dianggap sebagai aktor kolonialisme Kongo (AP Photo/Virginia Mayo)
Brussels -

Untuk pertama kalinya dalam sejarah Belgia, seorang Raja yang berkuasa menyatakan penyesalannya atas kekerasan yang dilakukan oleh Raja di masa lalu. Ketika itu, Republik Demokratik Kongo masih menjadi kekuasaan Belgia.

Seperti dilansir dari Associated Press (AP), Selasa (30/6/2020), dalam sebuah surat kepada Presiden Kongo, Felix Tshisekedi, yang diterbitkan pada peringatan 60 tahun kemerdekaan negara Afrika, Raja Philippe dari Belgia menyampaikan "penyesalannya yang paling dalam" atas "tindakan kekerasan dan kekejaman" dan "penderitaan dan penghinaan" yang ditimbulkan di Kongo era Belgia.

"Untuk semakin memperkuat ikatan kita dan mengembangkan persahabatan yang lebih bermanfaat, kita harus mampu berbicara satu sama lain tentang sejarah panjang kita bersama dalam kebenaran dan ketenangan," tulis Philippe.

Surat Philippe dikirim di tengah tuntutan yang meningkat soal sejarah kolonialisme Belgia. Setelah protes terhadap ketidaksetaraan ras yang dipicu oleh kematian George Floyd di Amerika Serikat, beberapa patung Raja Leopold II, yang disalahkan atas kematian jutaan orang Afrika selama pemerintahan kolonial Belgia, telah dirusak. Sementara sebuah petisi menyerukan negara itu untuk menghapus semua patung mantan raja.

Tonton juga video 'Kenali Gejala Virus Ebola 2020 yang Melanda Republik Kongo':

Selanjutnya
Halaman
1 2