Australia Catat Jumlah Kasus Corona Harian Tertinggi dalam 2 Bulan

Novi Christiastuti - detikNews
Senin, 29 Jun 2020 13:18 WIB
Medical workers staff a drive-through COVID-19 testing site located in a shopping centre carpark in Melbourne on June 23, 2020. - Australians were warned on June 22 to avoid travelling to Melbourne, as the countrys second biggest city tightened coronavirus restrictions amid fears of a second wave of the epidemic. (Photo by William WEST / AFP)
Petugas melakukan tes swab Corona terhadap warga Melbourne di pusat perbelanjaan setempat (AFP/WILLIAM WEST)
Melbourne -

Negara bagian Victoria di Australia melaporkan tambahan kasus virus Corona (COVID-19) harian tertinggi dalam lebih dari dua bulan terakhir. Negara bagian dengan penduduk terpadat kedua di Australia ini tengah mempertimbangkan untuk memberlakukan kembali langkah pembatasan social distancing.

Seperti dilansir Reuters, Senin (29/6/2020), sementara negara bagian dan wilayah lain belum melaporkan angka terbaru, negara bagian Victoria mendeteksi 75 kasus baru dalam 24 jam terakhir. Angka ini tercatat sebagai tambahan kasus harian tertinggi di Australia sejak 11 April lalu.

Jumlah kasus baru yang terus naik semakin memicu kekhawatiran soal datangnya gelombang kedua virus Corona di Australia setelah beberapa pekan terakhir, Australia melaporkan tambahan kasus di bawah 20 per hari.

Dengan melonjaknya kasus baru Corona, negara bagian Victoria mengambil kebijakan tes Corona massal. Kepala kesehatan setempat, Brett Sutton, menyatakan bahwa negara bagian ini perlu menerapkan kembali pembatasan social distancing.

"Mengubah aturan hukum adalah hal yang harus kita pertimbangkan karena kita harus melakukan apapun yang diperlukan untuk membalikkan keadaan," ucap Sutton kepada wartawan di Melbourne, saat menjawab pertanyaan soal penerapan kembali lockdown lokal.

Pekan lalu, otoritas negara bagian Victoria mengerahkan ambulans dan pusat tes Corona mobile untuk memeriksa sebagian besar warga di 10 hotspot penularan Corona. Namun beberapa warga menolak tes swab pada tenggorokan dan hidung secara sukarela ini. Otoritas negara bagian Victoria berharap bahwa tes air liur, yang tidak terlalu mengganggu, akan membuat lebih banyak orang terdorong untuk menjalani tes, meskipun itu sedikit kurang akurat.

"Kami pikir itu akan memainkan peran dalam memperkuat pemeriksaan di seluruh negara bagian. Populasi yang rentan atau bagi orang-orang yang bermasalah dengan tes swab tenggorokan, seperti anak-anak atau individu lain, merasa itu lebih dapat diterima," ucap Direktur Institut Doherty, Profesor Sharon Lewin, yang mengembangkan tes air liur.

Data penghitungan Johns Hopkins University (JHU) mencatat total 7.693 kasus Corona di wilayah Australia, dengan 104 kematian.

(nvc/ita)