Round-Up

China versus India: Kabar Tentara Dimutilasi hingga Respons PM Modi

Tim detikcom - detikNews
Minggu, 21 Jun 2020 06:54 WIB
China: Korban bertambah, 20 tentara India tewas dalam bentrokan dengan militer China
Foto: Tentara India dan tentara China terlibat bentrok berdarah (BBC World)
New Delhi -

Pertikaian China dan India kian memanas usai 20 tentara India tewas dalam bentrok. Beberapa di antara mereka bahkan ada yang dilaporkan dimutilasi. Perdana Menteri India Narendra Modi pun bereaksi.

Seperti dilansir India Today, Sabtu (20/6/2020), beberapa jenazah tentara India, dari 20 tentara yang tewas dalam bentrokan itu, dilaporkan ada yang dimutilasi. Laporan ini belum mendapat konfirmasi resmi dari otoritas maupun militer India.

Namun pada Kamis (18/6) waktu setempat, beredar sebuah foto yang menunjukkan senjata yang dipakai dalam bentrokan tentara India dan China. Foto tersebut menampilkan tongkat pemukul yang dipasangi paku tajam dan kawat berduri di sekelilingnya.

Media Inggris, BBC, memperoleh foto itu dari seorang perwira senior militer India di perbatasan India-China, yang mengatakan senjata itu digunakan oleh tentara China.

Analis pertahanan, Ajai Shukla, yang pertama kali mencuitkan gambar tersebut, menyebut penggunaan senjata itu menandakan perilaku "barbar".

Menangggapi insiden ini, seperti dilansir AFP, Sabtu (20/6), PM Modi menggelar rapat langka dengan para pemimpin partai oposisi untuk membahas krisis ini. Rapat digelar setelah China membebaskan 10 tentara India, termasuk dua yang berpangkat Mayor.

Seruan boikot produk China menggema di India. Tentara-tentara yang tewas dimakamkan dalam seremoni yang menarik perhatian besar dari publik setempat.

"Seluruh negara terluka dan marah pada langkah-langkah yang diambil China," ucap PM Modi dalam pernyataannya.

PM Modi membantah bahwa tentara China sempat masuk 'ke dalam wilayah kita' dan bersikeras bahwa 'penegakan kedaulatan adalah yang terpenting' bagi pemerintahannya. Oleh karena itu, sebut PM Modi, militer India kini diberi kebebasan untuk merespons setiap kekerasan yang terjadi di perbatasan.

"Angkatan bersenjata telah diberi kebebasan untuk mengambil seluruh langkah yang diperlukan," tegasnya.