Serang Mobil Polisi, Demonstran George Floyd Terancam Bui Seumur Hidup

Rita Uli Hutapea - detikNews
Sabtu, 13 Jun 2020 13:45 WIB
LONDON, ENGLAND - JUNE 09: Protesters with personal protective equipment (PPE) are gathering in Parliament Square to commemorate the life of George Floyd at 5pm, the time when his body will be laid to rest in Houston, Texas, where he grew up, on June 09, 2020 in London, United Kingdom. The death of an African-American man, George Floyd, while in the custody of Minneapolis police has sparked protests across the United States, as well as demonstrations of solidarity in many countries around the world. (Photo by Dan Kitwood/Getty Images)
aksi demo memprotes kematian George Floyd (Foto: David Ramos/Getty Images)
New York -

Jaksa-jaksa Amerika Serikat mengajukan sejumlah dakwaan terhadap tiga demonstran yang dituduh melemparkan bom Molotov ke mobil-mobil polisi saat aksi demo anti-rasisme di New York. Jika terbukti bersalah atas dakwaan-dakwaan tersebut, para demonstran yang memprotes kematian George Floyd itu, terancam hukuman penjara seumur hidup.

Dakwaan, yang diajukan oleh jaksa federal di Brooklyn, menuduh Samantha Shader, Colinford Mattis, dan Urooj Rahman melempar alat peledak ke mobil polisi dalam dua insiden terpisah pada akhir Mei lalu.

Dalam kedua kasus itu, tidak ada yang terluka.

Ketiga demonstran itu menghadapi tujuh dakwaan termasuk pembakaran, kepemilikan dan penggunaan bahan peledak dan alat perusak, dan kekacauan publik.

"Jika terbukti bersalah atas semua dakwaan, mereka berpotensi menghadapi hukuman seumur hidup," ujar juru bicara kantor Kejaksaan AS kepada AFP, Sabtu (13/6/2020).

Ketiganya ditahan tanpa jaminan, meskipun pengacara mereka telah mengajukan banding atas keputusan itu.

Aksi-aksi protes terjadi pada akhir pekan pertama setelah George Floyd, seorang pria Afrika-Amerika, meninggal setelah seorang petugas polisi berlutut di lehernya selama nyaris sembilan menit di Minneapolis pada 25 Mei.

Kematiannya -- yang terbaru dalam daftar panjang pria kulit hitam tak bersenjata yang telah tewas di tangan penegak hukum -- memicu protes nasional seiring AS menghadapi kecaman atas rasisme sistemik dan kebrutalan polisi.

Sebagian besar aksi-aksi demonstrasi di berbagai penjuru wilayah AS itu berlangsung damai.

Selanjutnya
Halaman
1 2