Demonstran George Floyd Ditembaki Gas Air Mata, Hillary Clinton Kritik Trump

Novi Christiastuti - detikNews
Selasa, 02 Jun 2020 11:07 WIB
President Donald Trump walks past police in Lafayette Park after he visited outside St. Johns Church across from the White House Monday, June 1, 2020, in Washington. Part of the church was set on fire during protests on Sunday night. (AP Photo/Patrick Semansky)
Trump berjalan melewati barisan polisi yang menjaga aksi demonstran George Floyd di Taman Lafayette, seberang Gedung Putih (AP Photo/Patrick Semansky)
Washington DC -

Mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Hillary Clinton melontarkan kritikan tajam terhadap Presiden Donald Trump di tengah maraknya unjuk rasa memprotes kematian George Floyd. Hillary menuduh Trump menggunakan kekuasaannya sebagai Presiden AS secara mengerikan.

Seperti dilansir CNN, Selasa (2/6/2020), Hillary yang pernah menjadi rival Trump dalam pilpres 2016 ini, menyoroti penggunaan kekerasan oleh polisi terhadap demonstran guna membersihkan area sekitar Gedung Putih agar Trump bisa berjalan kaki ke St. John's Episcopal Church untuk berfoto pada Senin (1/6) waktu setempat.

"Malam ini, Presiden Amerika Serikat menggunakan militer Amerika untuk menembaki para demonstran damai dengan peluru karet dan gas air mata. Untuk sebuah sesi foto," ucap Hillary dalam kritikan yang disampaikannya via Twitter.

"Ini sungguh sebuah penggunaan kekuasaan presiden yang mengerikan terhadap warga negara kita dan tidak memiliki tempat di mana pun, terutama di Amerika," tegasnya, sembari mendorong warga AS untuk menggunakan hak suaranya dalam pilpres 2020.

Diketahui bahwa sebelum kunjungan Trump ke gereja St. John's Episcopal Church di dekat Gedung Putih pada Senin (1/6) malam, polisi antihuru-hara yang menjaga aksi protes di luar Gedung Putih menembakkan gas air mata dan peluru karet, serta granat kejut ke arah demonstran yang menggelar aksi damai. Hal itu dilakukan demi membersihkan area sebelum Trump berjalan keluar Gedung Putih menuju ke St. John's Church.

Tindakan polisi membubarkan demonstran damai dengan kekerasan ini dilakukan setelah Trump, dalam pidatonya di Gedung Putih mengklaim dirinya merupakan sekutu para demonstran damai. "Saya adalah Presiden hukum dan ketertiban Anda dan sekutu dari semua demonstran yang damai," klaim Trump sebelumnya.

Di depan St. John's Church, Trump beberapa kali berfoto sambil memegang Alkitab. Dia juga memberikan pernyataan singkat soal AS. "Kita punya negara yang hebat," ucapnya. "Negara terhebat di dunia," imbuh Trump.

Pada momen itu, seperti dilansir Associated Press, Trump sama sekali tidak membahas Floyd yang tewas setelah lehernya ditekan dengan lutut oleh seorang polisi kulit putih. Trump juga tidak membahas kebakaran yang sempat melanda St. John's Church yang dikunjunginya. Dia tidak membahas para demonstran damai yang dibubarkan polisi dengan tembakan gas air mata, peluru karet dan granat kejut. Trump juga tidak membahas soal virus Corona yang masih merajalela di AS.

Trump malah mengundang Jaksa Agung AS, William Bar, serta jajaran penasihat keamanan, kepala staf, sekretaris pers dan Menteri Pertahanan AS, Mark Esper, yang ikut dalam rombongannya, untuk berfoto bersama sebelum akhirnya dia berjalan kembali menuju Gedung Putih.

Protes Kematian George Floyd Ricuh, Trump Siapkan Militer:

(nvc/ita)