AS Dakwa 33 Warga Korea Utara dan China Atas Pencucian Uang

Novi Christiastuti - detikNews
Jumat, 29 Mei 2020 08:54 WIB
Caucasian woman holding gavel
Foto: iStock
Washington DC -

Departemen Kehakiman Amerika Serikat (AS) menjeratkan dakwaan terhadap 28 warga Korea Utara (Korut) dan lima warga China, atas dugaan mengoperasikan jaringan pencucian uang yang memindahkan dana miliaran dolar AS melalui bank-bank global demi menghindari sanksi nuklir Korut.

Seperti dilansir AFP, Jumat (29/5/2020), jaringan itu memproses lebih dari US$ 2,5 miliar (Rp 37,1 triliun) melalui lebih dari 250 front company atau semacam perusahaan cangkang, yang tersebar di Thailand, Libya, Austria, Rusia, China dan Kuwait demi menghindari sanksi.

Menurut dokumen dakwaan yang diajukan ke pengadilan federal di Washington DC itu, dana yang dicuci itu digunakan untuk membeli barang-barang yang dibutuhkan oleh Korut dan untuk memperkaya para tersangka.

Sebagian besar dari mereka yang didakwa berkaitan dengan jaringan 'terselubung' dari cabang Bank Dagang Asing Korut (FTB) yang masuk daftar hitam. Di antara mereka yang didakwa terdapat dua orang yang menjabat sebagai presiden bank tersebut, Ko Chol Man dan Kim Song Ui, dan dua wakil presidennya.

Puluhan warga Korut dan China itu didakwa menggunakan perusahaan cangkang untuk membersihkan transaksi dolar AS melalui jaringan finansial yang transit via AS, yang merupakan ilegal bagi Bank Dagang Asing dan entitas lainnya yang ada di bawah sanksi nuklir dan perdagangan yang dijatuhkan ke Korut oleh AS.

Dalam skema yang beroperasi dari tahun 2013 hingga tahun ini, para terdakwa dan konspiratornya 'menyembunyikan keterlibatan FTB dalam pembayaran dolar AS dari bank koresponden untuk mengelabui bank-bank saat proses pembayaran'. Pada saat itu, AS telah menyita sekitar US$ 63 juta dari dana itu.

Tonton juga video 'China Kekang Hong Kong, AS Siapkan Respon':

selanjutnya Selanjutnya
Halaman
1 2