Tanpa Lockdown, Jepang Mampu Pertahankan Jumlah Kasus Corona Tetap Rendah

Novi Christiastuti - detikNews
Selasa, 26 Mei 2020 15:33 WIB
A station passageway is crowded with commuters wearing face mask during a rush hour Tuesday, May 26, 2020, in Tokyo.  Japanese Prime Minister Shinzo Abe lifted a coronavirus state of emergency in Tokyo and four other remaining prefectures on Monday, May 25, ending the declaration that began nearly eight weeks ago.(AP Photo/Eugene Hoshiko)
Ilustrasi (AP/Eugene Hoshiko)
Tokyo -

Warga Tokyo di Jepang kembali ke jalanan dengan beberapa merasa lega dan beberapa merasa khawatir usai masa darurat virus Corona (COVID-19) dicabut pada Senin (25/5) waktu setempat. Warga Jepang diimbau untuk bersiap menyambut 'new normal' untuk belajar hidup bersama virus Corona.

Seperti dilansir Reuters dan Bloomberg, Selasa (26/5/2020), Perdana Menteri (PM) Jepang, Shinzo Abe, mencabut masa darurat untuk wilayah Tokyo dan empat prefektur lainnya pada Senin (25/5) waktu setempat. Pencabutan dilakukan setelah otoritas Jepang mengklaim kemenangan karena berhasil menjaga total kasus infeksi Corona relatif rendah.

Menurut data penghitungan Johns Hopkins University (JHU), total kasus infeksi virus Corona di Jepang saat ini mencapai 16.581 kasus, dengan 830 orang meninggal.

Tidak seperti negara lain yang memberlakukan lockdown ketat, Jepang tidak memaksa pusat-pusat bisnis untuk tutup selama pandemi Corona. Restoran hingga salon tetap buka. Tidak ada aplikasi canggih untuk melacak pergerakan orang-orang. Jepang juga tidak memiliki pusat untuk pengendalian virus Corona.

Laporan Bloomberg menyebut bahwa Jepang sejauh ini hanya memeriksa sekitar 0,2 persen dari total populasi. Angka ini tergolong salah satu yang terendah di jalangan negara-negara maju di dunia. Namun tetap, kurva penyebaran virus Corona di Jepang berhasil diratakan dengan total kematian ada di bawah 1.000 orang. Jepang, sejauh ini, menjadi negara anggota G7 dengan total kematian terendah.

Sementara itu, seperti dilansir BBC, PM Abe memuji 'model Jepang', yang disebutnya bisa mengendalikan wabah dalam 6 minggu tanpa ada lockdown ketat, seperti di negara lain. Namun, dia memperingatkan bahwa 'dalam skenario terburuk, ada kemungkinan untuk menerapkan kembali keadaan darurat jika jumlah infeksi meningkat lagi'.

Status Darurat Corona Dicabut, Stasiun Kereta Api di Tokyo Padat:

selanjutnya Selanjutnya
Halaman
1 2