Warga Malawi Tolak Lockdown: Kami Bisa Mati di Dalam Rumah

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Selasa, 21 Apr 2020 17:18 WIB
Malawi President Arthur Peter Mutharika addresses the 72nd United Nations General Assembly at U.N. headquarters in New York, U.S., September 20, 2017. REUTERS/Lucas Jackson
Foto: Presiden Malawi Peter Mutharika (REUTERS/Lucas Jackson)
Blantyre -

Pengadilan Malawi telah membatalkan sementara keputusan pemerintah negeri itu untuk menerapkan lockdown (karantina wilayah) guna mengendalikan penyebaran virus Corona. Banyak warga Malawi merasa lega atas keputusan ini.

"Seandainya lockdown itu diterapkan, kita pasti akan mati karena kelaparan dan bukan karena virus Corona," kata penjual pakaian bekas Thom Minjala di Malawi, seperti yang dilansir AFP, Selasa (21/4/2020).

Kebanyakan orang Malawi hidup dengan pendapatan kurang dari satu dolar AS per hari. Mereka umumnya bekerja di sektor perdagangan informal atau pekerjaan sambilan dengan penghasilan rendah.

"Tentu saja, kami takut dengan penyakit itu tetapi ketakutan nomor satu kami adalah kelaparan," ujar Minjala.

"Kami tidak punya uang untuk ditabung, apa pun yang kami hasilkan dari penjualan harian adalah apa yang memberi kami makan untuk hari itu," lanjutnya.

Sementara itu, George Mithengo, seorang penjual di pasar utama Blantyre, mengatakan bahwa pemerintah "seharusnya melakukan apa yang dilakukan negara lain" seperti membuat penyediaan makanan bagi orang miskin.

"Tapi di sini mereka hanya mengatakan kita lockdown. Bagaimana mereka mengharapkan kami untuk bertahan hidup? Kami bisa mati di dalam rumah," katanya.

Tonton video Warga AS Ramai-ramai Protes Kebijakan Stay At Home:

Selanjutnya
Halaman
1 2