Secara Global, Lebih dari 100 Ribu Orang Meninggal Akibat Virus Corona

Novi Christiastuti - detikNews
Sabtu, 11 Apr 2020 08:25 WIB
Pasien virus Corona menembus angka sejuta orang per Jumat (3/4). AS, Italia, Spanyol, China dan Jerman menduduki peringkat teratas pasien Covid-19 terbanyak.
Ilustrasi (AP Photo)
Beijing -

Orang pertama yang meninggal dunia karena virus Corona (COVID-19) merupakan seorang pria China berusia 61 tahun dari Wuhan pada 9 Januari lalu. Kini, tiga bulan kemudian, lebih dari 100 ribu orang di dunia meninggal akibat virus Corona.

Pusat pandemi virus Corona bergeser beberapa kali, dari awalnya ada di Asia, kemudian bergeser ke Eropa pada Maret lalu, dan kini ada di Amerika Serikat (AS).

Lebih dari separuh penduduk Bumi ada di bawah lockdown untuk membatasi penyebaran virus Corona. Namun, jumlah kematian harian akibat virus ini terus bertambah secara global, dari tadinya mencapai 500 orang dalam sehari pada pertengahan Maret, hingga lebih dari 5 ribu orang pada April dan kini mendekati 7.500 orang.

Seperti dilansir AFP, Sabtu (11/4/2020), dalam 8 hari terakhir, lebih banyak kematian yang dilaporkan dibandingkan 84 hari awal saat virus ini mewabah. Secara keseluruhan, berdasarkan penghitungan AFP hingga Jumat (10/4) waktu setempat, total 100.859 orang meninggal dunia akibat virus Corona secara global.

Lebih dari 1,6 juta kasus virus Corona dilaporkan di sedikitnya 193 negara, dengan sedikitnya 335.900 orang dinyatakan sembuh.

Penghitungan ini dilakukan AFP dengan mendasarkan pada data resmi nasional masing-masing negara dan data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Namun, diperkirakan data ini hanya merefleksikan sebagian kecil dari jumlah kasus yang sebenarnya.

Diketahui, banyak negara hanya memeriksa kasus-kasus paling serius. Beberapa negara lainnya tidak memiliki kebijakan pemeriksaan skala besar karena tidak memiliki sumber daya yang cukup, seperti di kawasan Afrika.

"Ada masalah dengan semua indikator, tapi jumlah kasus sangat bergantung pada jumlah tes. Jumlah kematian menjadi indikator baik asalkan Anda tidak mengubah parameter di tengah jalan," sebut pakar epidemiologi Prancis, Catherine Hill.

Update Global: Kini Jerman dan Prancis Telah Melampaui China:

Selanjutnya
Halaman
1 2