Ratusan Warga di Tunisia Gelar Aksi Demo, Protes Kebijakan Lockdown

Eva Safitri - detikNews
Rabu, 01 Apr 2020 01:47 WIB
Bendera Tunisia
Foto: Dok. Anadolu Agency
Tunisia -

Ratusan warga Tunisia berdemonstrasi di sebuah distrik kelas pekerja di ibu kota ,Selasa. Mereka memprotes kebijakan lockdown pemerintah selama seminggu, yang tidak proporsional dan berdampak pada orang miskin.

"Tidak masalah virus corona, kita akan mati juga! Mari kita bekerja!" teriak seorang pemrotes, seperti dilansir AFP, Rabu (1/4/2020)

"Biarkan saya setidaknya membawa pulang roti untuk anak-anak saya," kata tukang batu kepada AFP.

Di daerah miskin seperti Mnilha dan Ettadhamen di pinggiran ibu kota Tunisia, fasilitas kesehatan terbatas dan banyak orang yang bekerja sebagai pekerja harian dan tidak memiliki penghasilan karena tertahan oleh kebijakan lockdown.

"Aku belum bekerja dalam 15 hari," kata seorang wanita bernama Sabiha.

Pada hari Senin, warga yang marah berbaris ke kantor pemerintah setempat untuk menuntut pembayaran kesejahteraan dan izin untuk meninggalkan rumah mereka. Beberapa bahkan memblokir jalan dan membakar ban.

Perdana Menteri Elyes Fakhfakh mengumumkan pada 21 Maret akan mengirim paket bantuan ekonomi sebesar 150 juta dinar ($ 52 juta 48 juta euro) untuk mereka yang paling parah terkena dampak lockdown. Tetapi tidak menyebut pasti kapan akan didistribusikan.

Kemudian pada hari Senin kementerian sosial Tunisia mengumumkan bahwa pembayaran akan didistribusikan dari 21 Maret hingga 6 April.

"Kami berusaha mengatasi epidemi. Tetapi setiap hari sama dan mereka berkumpul di depan kantor," kata anggota dewan Mnilha Imed Farhat kepada AFP.

"Kami meminta penegak hukum untuk turun tangan. Tapi apa yang bisa kita lakukan? Kita harus mendengarkan mereka," lanjutnya.

Polisi telah menangkap 1.119 orang karena melanggar keluar jam malam sejak 17 Maret dan 242 karena melanggar perintah lockdown sejak 22 Maret, juru bicara kementerian dalam negeri Khaled Ayouni mengatakan.

Tunisia telah secara resmi melaporkan 312 kasus COVID-19 sejak 2 Maret, termasuk 10 kematian. Pandemi telah menghentikan pariwisata, sektor utama bagi Tunisia, dan banyak bisnis dan kegiatan tidak penting telah ditutup sejak 4 Maret.

Awalnya dijadwalkan berakhir pada 4 April, lockdown ini diharapkan akan diperpanjang.

(eva/eva)