Warga AS Panic Buying Senjata Api di Tengah Pandemi Corona

Novi Christiastuti - detikNews
Sabtu, 21 Mar 2020 11:32 WIB
People wait in a line to enter a gun store in Culver City, Calif., Sunday, March 15, 2020. Coronavirus concerns have led to consumer panic buying of grocery staples, and now gun stores are seeing a similar run on weapons and ammunition as panic intensifies. (AP Photo/Ringo H.W. Chiu)
Antrean panjang di sebuah toko senjata api di California saat pandemi virus Corona meluas (AP Photo/Ringo H.W. Chiu)

Sejumlah pembeli merupakan orang-orang yang baru pertama kali membeli senjata, yang merasa bahwa senjata api bisa memberikan rasa aman di tengah situasi yang tidak menentu. Yang lain adalah para pemilik senjata api yang menambah koleksi atau menambah stok amunisi usai melihat toko-toko bahan makanan menipis persediaannya, sekolah-sekolah tutup dan acara-acara besar dibatalkan karena virus Corona. Beberapa orang lainnya mengaku khawatir jika pemerintah akan memakai wewenang darurat untuk membatasi pembelian senjata api.

Betsy Terrell (61), seorang warga Decatur, Georgia, menyatakan dirinya berpikir selama bertahun-tahun untuk membeli senjata api dan akhirnya memutuskan untuk membeli untuk pertama kalinya setelah melihat kekacauan di supermarket, dengan antrean panjang dan orang-orang memborong banyak barang. Dia merasa wilayahnya sudah memiliki banyak kejahatan dan khawatir jika perekonomian memburuk karena virus Corona, maka kejahatan akan meningkat.

Setelah beberapa minggu memenuhi persediaan makanan, kopi, air dan obat untuk kucingnya, Terrell memutuskan saatnya bertindak. "Saya mulai melihat orang-orang bertingkah aneh. Itu agak mengerikan. Saya merasa ada potensi pergolakan politik... Ini mengerikan. Sekarang saya merasakan kebutuhan besar untuk mempersenjatai diri saya untuk melindungi diri saya," ucap Terrell yang berhasil membeli satu pistol tangan Glock 42.

Di California, John Gore (39) juga ikut mengantre di salah satu toko senjata setempat. "Para politikus dan orang-orang antisenjata telah memberitahu kita sejak lama bahwa kita tidak butuh senjata api. Tapi sekarang, banyak orang sungguh ketakutan dan mereka bisa mengambil keputusan sendiri," tuturnya seperti dilansir metro.co.uk.

Menurut CBSN, penjualan senjata api juga melejit di San Gabriel Valley, California, di mana banyak warga Asia-Amerika khawatir menjadi korban serangan rasial yang dipicu pandemi virus Corona. David Liu yang seorang pemilik toko senjata, mengakui dirinya khawatir dan baru saja membeli senjata api untuk istrinya. Seorang pembeli di toko itu, Daniel Lim, mengaku ingin keluarganya bisa melindungi diri jika terjadi krisis keuangan akibat virus Corona yang mungkin memicu kekacauan di AS.

Halaman

(nvc/hri)