300 WN AS Dievakuasi dari Kapal Pesiar yang Dikarantina Jepang, Picu Kemarahan

Novi Christiastuti - detikNews
Senin, 17 Feb 2020 12:15 WIB
A bus carrying U.S. passengers who were aboard the quarantined cruise ship the Diamond Princess arrives at Haneda airport in Tokyo, before the passengers board a Kalitta airplane chartered by the U.S. government Monday, Feb. 17, 2020. The cruise ship was carrying nearly 3,500 passengers and crew members under quarantine. (Sadayuki Goto/Kyodo News via AP)
Pesawat yang membawa warga AS yang dievakuasi dari kapal pesiar Diamond Princess (Sadayuki Goto/Kyodo News via AP)

Otoritas AS menyatakan pihaknya tidak akan menerima karantina yang dilakukan di dalam kapal pesiar Diamond Princess sebagai bukti bahwa seseorang bebas virus corona. Bagi Karey Mansicalco, yang memiliki perusahaan real estate di Utah, kabar itu sama saja merenggut kebebasannya yang bisa didapat dalam waktu dekat. Diketahui bahwa karantina di dalam kapal pesiar Diamond Princess akan berakhir pada 19 Februari mendatang.

"Ini seperti vonis penjara untuk perbuatan yang tidak saya lakukan. Mereka menyandera kita tanpa alasan," ucap Mansicalco kepada CNN dari kabinnya saat dia masih dikarantina.

Karantina lanjutan selama dua pekan akan membuat Mansicalco kehilangan uangnya hingga US$ 50 ribu. "Ini menghancurkan secara finansial juga secara emosional. Saya menangis saat saya mengetahui kabar ini dan ... saya tidak punya kata-kata untuk menjelaskan perasaan saya. Dan sekarang saya merasa marah," ujarnya.

Beberapa warga AS lainnya menolak dievakuasi karena enggan dikarantina lebih lanjut setibanya di AS. Mereka juga khawatir karena harus ada di dalam pesawat yang sama, dalam jangka waktu lama, dengan orang-orang yang bisa jadi telah terinfeksi atau sedang dalam masa inkubasi.

Pada Minggu (16/2) waktu setempat, Menteri Kesehatan Jepang, Katsunobu Kato, menyatakan sudah 1.219 orang -- dari total 3.700 orang di kapal tersebut -- menjalani pemeriksaan. Kato mengumumkan jumlah kasus virus corona dari kapal pesiar Diamond Princess bertambah menjadi 355 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 40 orang di antaranya merupakan warga AS.

Dr Anthony Fauci selaku Direktur Institut Nasional untuk Alergi dan Penyakit Menular pada Institut Kesehatan Nasional AS, menyatakan bahwa 40 warga AS yang terinfeksi virus corona akan tetap tinggal di Jepang untuk menjalani perawatan. "Sekitar 40 orang (warga AS) telah terinfeksi. Mereka akan dirawat di rumah sakit di Jepang," ucapnya kepada CBS.

Lebih lanjut, Fauci menyatakan bahwa karantina lanjutan selama 14 hari diperlukan karena 'tingkat penularan di dalam kapal pesiar itu pada dasarnya mirip dengan berada di hot spot'. "Jika orang-orang di dalam pesawat mulai mengalami gejala, mereka akan dipisahkan di dalam pesawat," tegasnya.


(nvc/dhn)