300 WN AS Dievakuasi dari Kapal Pesiar yang Dikarantina Jepang, Picu Kemarahan

Novi Christiastuti - detikNews
Senin, 17 Feb 2020 12:15 WIB
A bus carrying U.S. passengers who were aboard the quarantined cruise ship the Diamond Princess arrives at Haneda airport in Tokyo, before the passengers board a Kalitta airplane chartered by the U.S. government Monday, Feb. 17, 2020. The cruise ship was carrying nearly 3,500 passengers and crew members under quarantine. (Sadayuki Goto/Kyodo News via AP)
Pesawat yang membawa warga AS yang dievakuasi dari kapal pesiar Diamond Princess (Sadayuki Goto/Kyodo News via AP)

Ratusan warga AS yang dievakuasi dari kapal pesiar Diamond Princess ini akan diterbangkan ke Pangkalan Udara Travis di California dan Pangkalan Udara Lackland di Texas. Setibanya di AS, mereka semua diwajibkan menjalani karantina lanjutan selama 14 hari.

Ini berarti, semua warga AS ini akan menjalani karantina total selama nyaris empat pekan, karena mereka sebelumnya telah dikarantina di kapal pesiar Diamond Princess sejak 4 Februari lalu. Siapa saja yang memilih tidak ikut evakuasi yang ditawarkan pemerintah AS ini masih harus menunggu 14 hari di Jepang untuk memastikan mereka bebas virus corona, sebelum bisa pulang ke AS.

Keharusan untuk menjalani karantina lanjutan inilah yang telah memicu kemarahan dari sejumlah warga AS.

Evakuasi oleh Pemerintah AS Memicu Kemarahan

Beberapa warga AS yang kelelahan, yang meyakini evakuasi ke negara asal mereka berarti kembalinya mereka kepada kehidupan normal, merasa marah dan tak berdaya. Beberapa orang mempertanyakan mengapa pemerintah AS menunggu begitu lama untuk menawarkan evakuasi ini? Apa yang memicu perubahan dramatis dalam kebijakan AS terhadap ratusan warganya di dalam kapal pesiar Diamond Princess?

Kedubes AS di Tokyo sebelumnya menyebut pemerintah AS memutuskan untuk mengevakuasi warganya dari kapal pesiar itu karena orang-orang di dalamnya memiliki risiko tinggi terpapar virus corona.

"Dari tragedi menjadi komedi menjadi lelucon," kicau seorang penumpang asal AS, Matthew Smith, via akun Twitter-nya.

"Pemerintah AS justru ingin membawa kita tanpa pemeriksaan, menerbangkan kita kembali ke AS dengan sekelompok orang lainnya yang juga belum diperiksa, dan kemudian menyatukan kami dalam karantina dua minggu lagi? Bagaimana bisa itu langkah yang masuk akal?" imbuh Smith.