WHO: Menutup Perbatasan Negara Justru Bisa Percepat Penyebaran Corona

Rita Uli Hutapea - detikNews
Sabtu, 01 Feb 2020 11:59 WIB
Doctor Holding a Corona Blood sample in his hand
Foto: iStock
Jenewa -

Organisasi Kesehatan Dunia, WHO mengingatkan bahwa penutupan perbatasan negara tidaklah efektif dalam menghentikan penyebaran wabah virus corona dari China. Bahkan mungkin justru akan mempercepat penyebarannya.

"Jika Anda menutup perlintasan perbatasan resmi, Anda bisa kehilangan jejak orang-orang dan tak bisa memonitor (pergerakan mereka) lagi," kata juru bicara WHO, Christian Lindmeier kepada para wartawan di Jenewa, Swiss seperti dilansir kantor berita AFP, Sabtu (1/2/2020).

Sebelumnya pada Kamis (30/1) waktu setempat, WHO mengumumkan darurat kesehatan global terkait wabah virus corona yang telah menewaskan 259 orang dan menginfeksi belasan ribu orang. Namun badan kesehatan PBB itu menyatakan tidak merekomendasikan pembatasan perjalanan ataupun penutupan perbatasan, dan menyerukan negara-negara yang telah mengambil langkah tersebut agar mempertimbangkannya kembali.


Namun dengan terus menyebarnya virus corona baru ini, sejumlah negara telah menutup lalu lintas perbatasan dari China atau melarang masuk para pelancong dari Wuhan, kota di China yang menjadi tempat asal coronavirus ini.

Akan tetapi Lindmeier mengingatkan bahwa upaya negara-negara untuk menghentikan penyebaran virus dengan menutup perbatasan mereka dan melarang pelancong dari China, bisa kontraproduktif.

"Itu mungkin langkah logis untuk ... katakanlah, kami melihat bahaya dari luar, jadi mari kita mengurung diri kita," ujar juru bicara WHO tersebut.

"Namun seperti yang kita tahu dari skenario lainnya, apakah itu Ebola atau kasus lainnya, kapanpun orang-orang ingin bepergian... jika jalur resmi tidak dibuka, mereka akan menemukan jalur tidak resmi," imbuh Lindmeier.

"Tetapi satu-satunya cara untuk mengendalikan, untuk memeriksa demam misalnya, untuk mengidentifikasi riwayat perjalanan, untuk mencoba memantau siapa yang datang melintasi perbatasan, dan untuk melihat apakah mereka memiliki tanda-tanda infeksi adalah melalui titik-titik perlintasan perbatasan resmi," tandasnya.

"Ini adalah alasan besar untuk menjaga titik perlintasan perbatasan resmi tetap terbuka," kata Lindmeier.

Virus corona ini diyakini berasal dari sebuah pasar hewan di kota Wuhan, China, di mana hewan-hewan eksotik dan daging hewan liar diperdagangkan secara ilegal. Pasar hewan itu telah ditutup dan penyelidikan telah dilakukan otoritas setempat.

Muncul sejak Desember 2019, virus yang memicu gangguan pernapasan ini telah menyebar luas di berbagai penjuru China. Virus ini juga diketahui telah menyebar hingga ke lebih dari 20 negara. Selain China, sejumlah negara sudah melaporkan kasus corona yakni: Jepang, Korsel, Taiwan, Thailand, Vietnam, Malaysia, Singapura, Sri Langka, Nepal, Uni Emirat Arab, Australia, Kanada, Amerika Serikat, Jerman, Finlandia dan Prancis.

(ita/ita)