Komandan Iran Salahkan AS Atas Salah Tembak Pesawat Sipil Ukraina

Novi Christiastuti - detikNews
Kamis, 16 Jan 2020 13:51 WIB
Brigadir Jenderal Amir Ali Hajizadeh (Office of the Iranian Supreme Leader via AP)
Brigadir Jenderal Amir Ali Hajizadeh (Office of the Iranian Supreme Leader via AP)
Teheran - Seorang komandan top Iran menyebut ditembak jatuhnya pesawat maskapai Ukraina merupakan sebuah kesalahan yang 'dipaksakan' pada Iran oleh musuh.

Setelah menyangkal selama tiga hari, Garda Revolusi Iran mengakui pada Sabtu (11/1) lalu bahwa pihaknya secara tidak sengaja menembak jatuh pesawat maskapai Ukraine International Airlines. Pesawat jenis Boeing 737-800 itu baru saja lepas landas dari Teheran, saat terbakar dan jatuh di wilayah Iran pada 8 Januari lalu. Total 176 penumpang dan awak, yang sebagian besar warga Iran dan warga Kanada keturunan Iran, tewas dalam kejadian ini.

Komandan Divisi Dirgantara pada Garda Revolusi Iran, Brigadir Jenderal Amirali Hajizadeh, dalam pernyataan pada Sabtu (11/1) lalu, mengakui seorang operator rudal keliru mengira pesawat penumpang itu sebagai sebuah rudal jelajah dan menembakkan rudal secara independen atau atas keputusannya sendiri.


Dalam pernyataan terbaru, seperti dilansir Associated Press, Kamis (16/1/2020), Hajizadeh menyalahkan Amerika Serikat (AS) atas kesalahan yang dilakukan Iran saat menembak jatuh pesawat maskapai Ukraina. Hal ini disampaikan Hajizadeh saat mengunjungi keluarga salah satu korban jatuhnya pesawat penumpang itu.

"Ini (ditembak jatuhnya pesawat maskapai Ukraina secara tidak sengaja-red) merupakan sesuatu yang dipaksakan musuh kepada kita. Ini adalah kesalahan musuh. Ketika Anda sedang dalam perang, kedua pihak terkena serangan. Kita siap menyerang dan siap untuk diserang balik," sebut Hajizadeh. Musuh dalam pernyataan Hajizadeh tersebut merujuk pada AS.

Peristiwa ditembak jatuhnya pesawat sipil Ukraina itu terjadi setelah Iran melancarkan serangan rudal ke markas pasukan AS di Irak, untuk membalas kematian Komandan Pasukan Quds Iran, Mayor Jenderal Qasem Soleimani. Saat itu Iran diketahui dalam kondisi waspada menanti serangan balasan AS.
Selanjutnya
Halaman
1 2