Dilansir dari AFP, Selasa (17/12/2019), Kedutaan Swiss mengatakan wanita itu diculik dan dianiaya secara seksual oleh penyerang tak dikenal pada 25 November, sehari setelah seorang inspektur polisi Sri Lanka yang menyelidiki kasus-kasus yang melibatkan keluarga Rajapaksa mencari suaka di Swiss.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wanita itu ditangkap setelah jaksa agung negara itu merekomendasikan agar dia disebut sebagai tersangka. Juru bicara kejaksaan menyebut wanita itu dicurigai tidak puas dengan pemerintah dan mengarang bukti palsu untuk digunakan dalam proses peradilan.
Kasus ini memicu pertikaian diplomatik antara Colombo dan Bern, yang telah mendukung karyawannya tentang penculikannya. Swiss mengkritik penangkapannya dan kurangnya proses hukum dalam kasus ini serta telah meminta bukti yang menguatkan klaim mereka bahwa wanita itu mengada-ada.
Dalam sebuah pernyataan, kementerian luar negeri Swiss meminta otoritas kehakiman Sri Lanka untuk memastikan perlindungan yang lebih baik terhadap hak-hak pribadi karyawannya dalam setiap proses lebih lanjut, dan kepatuhan terhadap hukum nasional dan standar internasional.
Mereka juga menyesalkan wanita itu telah diinterogasi oleh polisi selama 30 jam dalam tiga hari, meskipun dalam kondisi kesehatan yang buruk. Pejabat Sri Lanka juga dituding telah mengeluarkan pernyataan yang mempertanyakan ceritanya sebelum penyelidikan selesai.
"Swiss ingin menekankan bahwa dalam kasus besar ini, reputasi Sri Lanka sebagai negara yang menjunjung tinggi aturan hukum dipertaruhkan," ujar pihak Swiss.
Kementerian mengatakan duta besar Swiss di Kolombo telah bertemu dengan presiden Sri Lanka pada hari Senin untuk membahas kasus tersebut. (haf/haf)











































