Seperti dilansir AFP, Senin (25/11/2019), program '60 Minutes' dari saluran televisi Nine Network membahas dugaan itu dalam tayangan pada Minggu (24/11) waktu setempat.
Disebutkan bahwa agen-agen China menawarkan AUS$ 1 juta (Rp 9,4 miliar) kepada seorang pengusaha bernama Bo 'Nick' Zhao untuk mencalonkan diri sebagai kandidat anggota parlemen federal Australia untuk negara bagian Melbourne. Zhao yang berusia 32 tahun ini merupakan dealer mobil mewah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Zhao yang keturunan China-Australia ini dilaporkan telah membeberkan pendekatan yang dilakukan agen China terhadapnya untuk menjadi mata-mata. Zhao mengungkapkan hal itu kepada Organisasi Intelijen Keamanan Australia (ASIO) tahun lalu, sebelum dia ditemukan tewas di sebuah kamar motel pada Maret lalu.
Dalam pernyataan publik yang langka pada Minggu (24/11) malam waktu setempat, Kepala ASIO Mike Burgess menyatakan pihaknya 'sudah menyadari persoalan itu' dan telah 'secara aktif menyelidikinya'.
Lebih lanjut, Burgess menyatakan dirinya tidak akan memberikan komentar lebih lanjut karena kematian Zhao masih dalam penyelidikan. "Aktivitas intelijen asing keji terus memberikan ancaman nyata bagi negara kita dan keamanannya," imbuhnya.
Kepolisian Australia belum mampu memastikan bagaimana Zhao tewas.
Komisi intelijen parlemen Australia, Andrew Hastie, menyebut plot ini 'tidak nyata' dan 'seperti sesuatu yang keluar dari novel mata-mata'.
"Ini bukan hanya soal uang tunai dalam kantong, yang diberikan untuk bantuan, ini merupakan sebuah upaya yang disponsori negara untuk menyusup ke dalam parlemen kita dengan menggunakan seorang warga negara Australia dan pada dasarnya mengoperasikan mereka sebagai agen pengaruh asing dalam sistem demokratik kita," sebut Hastie dalam keterangan kepada program '60 Minutes'.
"Jadi ini sungguh signifikan dan warga Australia seharusnya sangat, sangat khawatir soal ini," imbuhnya.
Klaim soal penyelidikan rencana China ini diungkapkan beberapa hari setelah seorang mata-mata China dilaporkan memberikan identitas sejumlah pejabat senior intelijen militer China di Hong Kong dan memberikan informasi detail soal bagaimana China mendanai serta melakukan operasi intelijen di Hong Kong, Taiwan, dan Australia.
China mengecam mata-mata bernama Wang 'William' Liqiang itu sebagai penipu yang pengangguran dan buronan, namun muncul seruan di Australia untuk memberikan suaka politik kepadanya. Pengungkapan ini diperkirakan akan semakin menambah ketegangan antara China dan Australia.
Dalam pernyataan terpisah, mantan Kepala ASIO, Duncan Lewis, menyebut bahwa China ingin 'mengambil alih' sistem politik Australia dengan kampanye spionase dan campur tangan yang 'berbahaya' dan sistematis.
Halaman 2 dari 2










































