Serangan Bom Terjadi di Suriah, 6 Warga Sipil Tewas

Eva Safitri - detikNews
Selasa, 12 Nov 2019 04:27 WIB
Foto Pengeboman di Suriah, 6 orang tewas. (AFP)
Foto Pengeboman di Suriah, 6 orang tewas. (AFP)
Jakarta - Peristiwa pemboman terjadi tiga kali secara serentak di Suriah. Peristiwa itu menewaskan sedikitnya enam warga sipil di kota Qamishli yang dihuni mayoritas masyarakat etnis Kurdi di Suriah timur laut.

Dilansir dari AFP, Selasa (12/11/2019), belum diketahui dari mana asal bom itu. Tetapi bom itu terjadi tak lama setelah kelompok Negara Islam mengatakan bertanggung jawab atas pembunuhan pada hari yang sama seorang pemimpin umat Katolik dari kota yang sama.

Di Qamishli, seorang koresponden AFP melihat mobil-mobil hangus dan asap mengepul dari lokasi ledakan.


Petugas pemadam kebakaran mencoba memadamkan api yang disebabkan oleh ledakan, saat petugas penyelamat membawa korban.

Pengamat perang Suriah untuk Hak Asasi Manusia mengatakan bom itu dibawa oleh dua bom mobil dan sebuah sepeda motor. Dipasang dalam kendaraan itu bahan peledak dan kemudian meledak di sebuah pasar dan dekat sebuah sekolah di kota itu.

Lebih dari 20 orang terluka dalam serangan simultan itu, kata monitor yang berbasis di Inggris itu.

Ledakan terjadi setelah IS mengklaim telah membunuh seorang pemimpin umat Katolik Armenia dari Qamishli.

Observatorium mengatakan, pemimpin umat Katolik dan ayahnya tewas oleh tembakan ketika mereka berjalan ke provinsi timur Deir Ezzor untuk memeriksa pemulihan sebuah gereja di sana.

Pejuang Kurdi telah memimpin pertempuran yang didukung AS melawan IS di Suriah, mengusir para ekstrimis dari memo terakhir negara-proto mereka pada bulan Maret.

Namun para jihadis terus mengklaim serangan mematikan di timur laut dan Suriah timur sejak itu.

Pada Juli, IS mengatakan bertanggung jawab atas bom truk besar-besaran yang menewaskan sedikitnya 44 orang di Qamishli.


Sebuah serangan lintas-perbatasan Turki terhadap para pejuang Kurdi pada 9 Oktober meningkatkan kekhawatiran bahwa para pejuang IS bisa pecah secara massal dari penjara-penjara Kurdi.

Namun kesepakatan gencatan senjata Turki-Rusia yang rapuh telah sedikit banyak menghentikan serangan itu, dan melihat pasukan Kurdi menarik diri dari daerah-daerah di sepanjang perbatasan Turki, kecuali Qamishli.

(eva/dnu)