detikNews
Rabu 18 September 2019, 10:25 WIB

Keluarga Korban Ethiopian Airlines Minta Akses ke Dokumen Boeing Soal 737 MAX

Novi Christiastuti - detikNews
Keluarga Korban Ethiopian Airlines Minta Akses ke Dokumen Boeing Soal 737 MAX Puluhan pesawat Boeing 737 MAX yang di-grounded terparkir di Boeing Field di Seattle, Washington (REUTERS/Lindsey Wasson)
Chicago - Keluarga korban tragedi Ethiopian Airlines ET 302 tengah meminta akses ke dokumen dari pihak Boeing dan otoritas penerbangan Amerika Serikat (AS) soal keputusan untuk tidak meng-grounded Boeing 737 MAX setelah kecelakaan pertama yang menimpa Lion Air JT 610 pada Oktober 2018.

Kecelakaan Lion Air di Indonesia yang menggunakan pesawat jenis Boeing 737 MAX pada Oktober 2018 menewaskan 189 orang. Sekitar lima bulan kemudian, atau pada Maret tahun ini, sebuah pesawat Boeing 737 MAX lainnya yang digunakan Ethiopian Airlines jatuh di Ethiopia hingga menewaskan 157 orang.

Dalam dua kecelakaan itu, sistem anti-stall MCAS pada pesawat terindikasi turut berkontribusi. Usai kecelakaan Lion Air, pihak Boeing tidak langsung meng-grounded Boeing 737 MAX. Otoritas Penerbangan Federal (FAA) merilis arahan kelaikan udara yang mengingatkan pilot soal prosedur darurat.


Seperti dilansir AFP, Rabu (18/9/2019), FAA juga meminta Boeing melakukan perbaikan terhadap pesawat jenis 737 MAX, yang masih terus diperbolehkan mengudara saat kecelakaan Ethiopian Airlines terjadi.

"Keputusan untuk membiarkan pesawat-pesawat itu tetap memberikan layanan menjadi kuncinya," sebut Robert Clifford, pengacara asal Chicago yang mewakili keluarga korban tragedi Ethiopian Airlines ET 302.

Clifford mengajukan permohonan untuk mengakses dokumen Boeing dalam persidangan di hadapan hakim Chicago, pekan ini. Persidangan ini masih bagian dari gugatan hukum yang diajukan keluarga korban terhadap Boeing.

Lebih lanjut, disebutkan Clifford bahwa firma hukumnya dan pihak Boeing sedang mengupayakan akses pada dokumen-dokumen itu. "Kini mengupayakan untuk menyusun perintah perlindungan untuk produksi dokumen-dokumen yang berkaitan dengan rancangan dan pengembangan (Boeing) 737 MAX 8," demikian pernyataan Clifford.

"Fokus pada apa yang diketahui Boeing setelah kecelakaan MAX 8 yang digunakan Lion Air pada 29 Oktober (2018) lalu di Laut Jawa dan kecelakaan MAX 8 di Ethiopia hanya beberapa bulan setelahnya," imbuhnya.

Dalam pernyataannya, Boeing menyatakan pihaknya bekerja sama dengan otoritas terkait yang sedang melakukan penyelidikan. Boeing menolak untuk mengomentari langsung gugatan yang diajukan terhadapnya. Sidang selanjutnya akan digelar pada 28 Oktober mendatang.


(nvc/ita)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com