detikNews
Kamis 22 Agustus 2019, 11:07 WIB

China Akui Tahan Pria Hong Kong yang Bekerja di Konsulat Inggris

Novi Christiastuti - detikNews
China Akui Tahan Pria Hong Kong yang Bekerja di Konsulat Inggris Foto Simon Cheng yang dilaporkan hilang saat berkunjung ke Shenzhen dan diklaim ditahan oleh otoritas China (Anthony WALLACE/AFP)
Beijing - Seorang pegawai Konsulat Inggris di Hong Kong menghilang sejak awal bulan ini setelah melakukan perjalanan bisnis singkat ke Shenzhen, Guangdong, China. Dalam pernyataan terbaru, mengonfirmasi pihaknya telah menahan pegawai yang disebut berkewarganegaraan Hong Kong itu.

Insiden ini terjadi saat hubungan antara Inggris dan China bersitegang setelah otoritas China menyebut otoritas Inggris 'mencampuri' unjuk rasa pro-demokrasi yang menyelimuti Hong Kong selama tiga bulan terakhir.

Seperti dilansir AFP, Kamis (22/8/2019), dalam konferensi pers di Beijing, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Geng Shuang, menyebut pria yang ditahan itu telah melanggar aturan hukum soal keamanan publik. Pria itu kini ada dalam penahanan Kepolisian Shenzhen.

"Ditempatkan dalam penahanan administratif selama 15 hari sebagai hukuman," sebut Geng dalam pernyataannya.


Pelanggaran yang dilakukan pegawai Konsulat Inggris itu tidak dijelaskan lebih lanjut. Geng hanya menyebut pegawai konsulat itu telah melanggar Undang-undang Hukuman Administrasi Keamanan Publik. Undang-undang itu merupakan aturan hukum dengan ruang lingkup luas yang bertujuan untuk menjaga ketertiban umum dalam masyarakat dan mempertahankan keamanan publik, juga memastikan pihak kepolisian dan otoritas keamanan bertindak dalam kerangka hukum.

Geng juga menegaskan bahwa pegawai konsulat itu berkewarganegaraan Hong Kong, oleh karena itu, penahanan ini merupakan urusan internal. "Biarkan saya klarifikasi, pegawai ini adalah seorang warga negara Hong Kong, dia bukan warga negara Inggris, yang juga berarti dia adalah orang China," tegasnya.

Identitas pegawai Konsulat Inggris yang ditahan itu tidak disebut lebih lanjut. Namun keluarga dari pria itu menyebut namanya sebagai Simon Cheng. Menurut keluarganya, Cheng bepergian ke Shenzhen, kota perbatasan China dan Hong Kong, untuk menghadiri pertemuan bisnis selama satu hari pada 8 Agustus lalu.

Malam harinya, Cheng seharusnya pulang ke Hong Kong dengan kereta cepat. Dia sempat mengirimkan pesan kepada kekasihnya, yang isinya menyebut dia hendak melewati pemeriksaan cukai. "Kami kehilangan kontak dengannya setelah itu," demikian pernyataan keluarga Cheng via Facebook.


Penahanan warga Hong Kong yang bekerja pada Konsulat Inggris ini terjadi saat unjuk rasa besar-besaran masih berlanjut di Hong Kong, yang berstatus Wilayah Administrasi Khusus. Unjuk rasa itu awalnya memprotes rancangan undang-undang (RUU) yang mengatur ekstradisi ke China daratan, namun kemudian meluas menjadi seruan reformasi demokratik.

Terus berlanjutnya unjuk rasa di Hong Kong, membuat otoritas China meningkatkan pengamanan di perbatasan, khususnya Shenzhen yang hanya berjarak 1 jam perjalanan darat dari Hong Kong. Di perbatasan, dilaporkan pemeriksaan ketat dilakukan terhadap telepon genggam dan peralatan elektronik untuk mencari foto maupun hal-hal terkait unjuk rasa tersebut.

China berjanji menghormati kebebasan yang berlaku di Hong Kong yang merupakan wilayah semi-otonomi ini, setelah penyerahan dari Inggris tahun 1997 lalu. Namun dengan terus berlanjutnya unjuk rasa, China dikhawatirkan akan mengambil tindakan tegas yang tidak diinginkan terhadap Hong Kong.

Berulang kali China memperingatkan Inggris agar tidak mencampuri urusan Hong Kong. "Baru-baru ini Inggris menyampaikan banyak pernyataan yang keliru soal Hong Kong. Kami sekali lagi mendorong pihak Inggris untuk berhenti mengobarkan api soal isu Hong Kong," tegas Geng dalam konferensi pers.


Simak Video "Ragam Wajah Pendemo Hong Kong"

[Gambas:Video 20detik]


(nvc/jbr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com