Media China Tegaskan Tragedi Tiananmen Tak Akan Terulang di Hong Kong

Media China Tegaskan Tragedi Tiananmen Tak Akan Terulang di Hong Kong

Novi Christiastuti - detikNews
Jumat, 16 Agu 2019 18:03 WIB
Foto-foto yang menunjukkan pengerahan militer China ke dekat perbatasan Hong Kong (REUTERS/Thomas Peter)
Foto-foto yang menunjukkan pengerahan militer China ke dekat perbatasan Hong Kong (REUTERS/Thomas Peter)
Beijing - Media China menegaskan bahwa tragedi di Alun-alun Tiananmen 'tak akan terulang' jika memang China memutuskan untuk mengambil langkah terhadap unjuk rasa di Hong Kong. Penegasan ini disampaikan setelah muncul kekhawatiran berulangnya tragedi Tiananmen usai laporan China menggelar latihan militer di dekat perbatasan Hong Kong.

Seperti dilansir AFP, Jumat (16/8/2019), dalam penyebutan langka untuk insiden berdarah itu -- yang biasanya tabu di China daratan, surat kabar China, Global Times, menegaskan China memiliki metode-metode lebih mutakhir daripada yang digunakan sekitar 30 tahun lalu untuk membubarkan unjuk rasa di Beijing.

"Insiden di Hong Kong tidak akan menjadi pengulangan insiden politik 4 Juni tahun 1989," tulis Global Times dalam editorialnya. Global Times merupakan surat kabar China yang ada di bawah perlindungan surat kabar resmi China, People's Daily.

"China jauh lebih kuat dan jauh lebih dewasa, dan kemampuan China untuk mengatasi situasi rumit telah sangat ditingkatkan," imbuh editorial tersebut.


Unjuk rasa besar-besaran terus berlanjut di Hong Kong meski telah berlangsung selama lebih dari dua bulan terakhir. Aksi yang bermula sebagai protes terhadap rancangan undang-undang (RUU) ekstradisi yang kontroversial karena mengatur ekstradisi tersangka kriminal ke China, kini meluas menjadi gerakan menuntut reformasi demokrasi dan menghentikan pengaruh China atas Hong Kong.

Unjuk rasa di Hong Kong itu beberapa kali berujung bentrokan yang sarat aksi kekerasan, baik oleh segelintir demonstran maupun oleh polisi yang mengerahkan gas air mata dan peluru karet.

Laporan terbaru soal pengerahan kendaraan dan personel militer China ke dekat perbatasan Hong Kong, semakin memicu kekhawatiran. Terlebih foto-foto menunjukkan personel militer dan kendaraan lapis baja militer China disiagakan di kota perbatasan Shenzhen pekan ini.

Terkait laporan itu, otoritas China telah mempertegas bahwa pengerahan itu bertujuan sebagai latihan militer yang telah dijadwalkan jauh-jauh hari dan tidak ada kaitannya dengan unjuk rasa di Hong Kong.


Namun hal itu membuat komentator internasional menyinggung insiden Tiananmen pada 4 Juni 1989 silam. Dalam insiden 30 tahun lalu itu, unjuk rasa selama berminggu-minggu yang dipimpin para mahasiswa di Alun-alun Tiananmen, Beijing akhirnya berakhir saat militer China mengerahkan tank-tank ke lokasi unjuk rasa.

Gambar dari operasi militer China itu memicu kecaman dunia. Perkiraan menyebut ratusan hingga ribuan orang tewas dalam operasi itu, meskipun angka pastinya tidak pernah dirilis oleh pemerintah China. Insiden Tiananmen memicu stagnannya perekonomian China selama dua tahun dan negara itu menjadi paria internasional.

Pembahasan soal tragedi Tiananmen, atau yang secara umum disebut sebagai 'insiden 4 Juni' di China, disensor besar-besaran oleh pemerintah China. Hanya sedikit warga China yang pernah melihat foto-foto mengerikan dari tragedi Tiananmen yang sangat terkenal di seluruh dunia.

Dalam komentar pada Kamis (15/8) waktu setempat, penasihat keamanan nasional Amerika Serikat (AS) John Bolton memperingatkan China agar tidak kembali memicu insiden Tiananmen 'baru' dalam responsnya terhadap unjuk rasa di Hong Kong. Menanggapi komentar itu, Global Times menyebut AS 'tidak akan bisa mengintimidasi China dengan menggunakan kekacauan yang terjadi 30 tahun lalu'.

(nvc/ita)