AS Selidiki Penembakan di El Paso sebagai Terorisme Domestik

Novi Christiastuti - detikNews
Senin, 05 Agu 2019 12:42 WIB
Situasi di lokasi penembakan di El Paso (AP Photo/Andres Leighton)
Texas - Otoritas federal Amerika Serikat (AS) menyelidiki penembakan brutal di pusat perbelanjaan di El Paso, Texas, sebagai 'terorisme domestik'. Pelaku penembakan yang berusia 21 tahun terancam hukuman mati atas aksinya.

Seperti dilansir BBC dan CNN, Senin (5/8/2019), Jaksa AS untuk Distrik Texas Barat, John Bash, menyatakan bahwa Departemen Kehakiman AS 'tengah mempertimbangkan secara serius' untuk menjeratkan dakwaan kejahatan kebencian federal dan dakwaan senjata api federal, yang memiliki ancaman hukuman mati.

Dalam konferensi pers pada Minggu (4/8) waktu setempat, Bash menegaskan bahwa penembakan brutal yang menewaskan 20 orang dan melukai 26 orang di pusat perbelanjaan Walmart di El Paso memenuhi definisi hukum untuk terorisme domestik. Enam korban tewas di antaranya dipastikan sebagai warga Meksiko.

"Kami menangani ini sebagai kasus teroris domestik," ungkap Bash dalam konferensi pers.


"Tampaknya (penembakan) dirancang untuk setidaknya, mengintimidasi populasi sipil," imbuh Bash.

"Kami akan melakukan apa yang kami lakukan terhadap teroris di negara ini, yakni memberikan keadilan yang cepat dan pasti," tegasnya.

Pelaku penembakan di El Paso yang diidentifikasi bernama Patrick Crusius (21) ini diketahui memposting manifesto atau dokumen online yang berisi dukungan untuk pandangan nasionalisme kulit putih dan dukungan untuk rasisme.

Dokumen online itu menyebut penembakan brutal sebagai respons terhadap 'invasi terhadap Hispanik di Texas'. Dokumen online sebanyak empat halaman itu dilaporkan diunggah ke 8chan, forum online yang biasa dipakai kalangan sayap kanan jauh, sekitar 20 menit sebelum polisi setempat menerima panggilan darurat pertama pada Sabtu (3/8) pagi waktu setempat.

Situasi di lokasi penembakan di El Paso Situasi di lokasi penembakan di El Paso Foto: Mark Lambie/The El Paso Times via AP

Dilaporkan juga bahwa manifesto Crusius itu juga menyatakan dukungan untuk pelaku penembakan maut di Selandia Baru yang menewaskan 51 orang, Maret lalu.

Dalam aksinya di El Paso, Crusius menggunakan senapan serbu dan melepas tembakan ke arah orang-orang yang ada di dalam Walmart. Dia menyerahkan diri dan ditangkap setelah dikepung polisi di luar lokasi penembakan, tepatnya di area parkir Walmart.

Sersan Robert Gomez dari Kepolisian El Paso menyatakan Crusius ditahan tanpa penetapan uang jaminan. Disebutkan juga bahwa dia bersedia bekerja sama dalam penyelidikan dan menyatakan dirinya beraksi sendirian.

Sekitar 13 jam usai penembakan di El Paso, penembakan lain terjadi di Ohio yang menewaskan 9 orang. Pelaku penembakan di Ohio yang diidentifikasi bernama Connor Betts (24) tewas ditembak polisi. Laporan AFP menyebut pelaku ditembak dalam waktu 30 detik oleh polisi yang sedang berpatroli di dekat lokasi. Aksi cepat kepolisian ini mencegah jatuhnya lebih banyak korban.


Dalam penjelasan terpisah, Associated Press menyatakan undang-undang untuk terorisme domestik berbeda dengan undang-undang terorisme yang selama bertahun-tahun digunakan para jaksa AS dalam menindak tegas pendukung Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) dan Al-Qaeda. Pemerintah federal AS, sebut Associated Press, menetapkan terorisme domestik sebagai tindak kekerasan yang dimotivasi secara politik dan dirancang untuk memaksa atau mengintimidasi populasi sipil.


Polisi: Tersangka Penembakan di El Paso Berusia 21 Tahun:

[Gambas:Video 20detik]



(nvc/ita)